Wedding Party: Faktor U, Stakeholder Satisfaction, Gengsi Center, BEP tak terukur

0
76

Katanya orang sih hari istimewa, sekali seumur hidup, menjadi raja dan ratu sehari. Saking hari spesial, banyak banget upacara yang harus dilalui untuk peneguhan pernikahan. Untungnya ya, saya punya badan yang sehat dan kuat (alias banyak sediaan lemak 😀 hahahaha…) sehingga nggak tumbang ngurusin ini dan itu. Kalau dipikir-pikir, padahal ya, yang paling penting itu kan kedua pihak menjalin kesepakatan untuk mengarungi kehidupan ini bersama (benerrrrrr kannnnn????), tapi yang ada harus ribet gini dan gitu, seperti yang pernah saya ulas sebelumnya di postingan berjudul Wednomics.

Faktor U

Faktor U? Umur, masa iya ga cukup umur mau menikah ya… hehehe… Faktor U biasanya sih jadi patokan yang pantas untuk siap nikah, dan selain cukup umur, berdasarkan mitos gitu selisih umur tertentu berdampak baik atau buruk terhadap pernikahan (skippp laaaaaa, ga usah bahas mitos… hehehe).

Yang pasti, faktor U yang berperan sangat penting adalah UANG. Gilak, mau pesta sekecil dan sesederhana apapun ya UUD, ujung-ujungnya duit, ya nggak??? ya kan??? (maksa ihhhh!) Faktor uang ini kadang kurang dipikirkan kalau belum punya pasangan, mendingan juga hepi-hepi dengan rekan-rekan kerja, ya nggak?!?

Tapi dipungkiri atau tidak, sangatlah penting loh untuk menabung sejak dini atau paling tidak pastikan ada yang mau menjadi penyandang dana untuk pesta pernikahan Anda nantinya! #solusi dari Ekonom Gila

Stakeholder Satisfaction

EG kan udah pernah bahas nih tentang stakeholder, boleh baca yang case motor di Jogja “Stakeholder Oh Stakeholder”, nah kalau case-nya wedding party, bisa dikatakan ya stakeholder itu sangat luas cakupannya dan how to maximaze stakeholder value belum ada ukuran pastinya.

Yang bisa digolongkan sebagai stakeholder: yang pasti keluarga/kerabat; supplier makanan, kue, kostum, hiburan, dokumentasi, dsb ; undangan yang terundang, lupa diundang, sengaja nggak diundang, nggak sengaja diundang, diundang tapi ga bisa datang karena jauh, sebut saja lagi yang ada kaitannya dengan pesta perkawinan, pada intinya adalah: ga satupun stakeholder termasuk yang punya pesta sendiri merasa pesta pernikahan yang digelar memberikan kepuasan melebihi standar masing-masing, ada saja yang menjadi kekurangan (cieeee curcollll… ahahahay :p). Masih ada lagi faktor yang sangat menentukan tetapi tidak dapat kita kendalikan, yaitu: cuaca! Maka, banyak-banyaklah berdoa agar selama pesta dilangsungkan cuacanya cerah ceria.

Jadi, solusi dari Ekonom Gila adalah: pastikan Anda puas dengan pesta pernikahan Anda meskipun stakeholder Anda tidak puas! #solusi dari Ekonom Gila

Gengsi Center 

Menurut saya pribadi (atud nih kalo bilang menurut EG ntar EG bisa di-sue :D), pesta pernikahan adalah ajang yang bergengsi, bukan hanya untuk penyelenggara tetapi juga untuk undangan yang datang, meskipun nggak ada juri seperti acara idol-idolan. Kalau dalam ilmu Akuntansi Manajemen ada yang disebut Profit Center, Cost Center, dsb. maka wedding party saya sebut “Gengsi Center”.

Kemewahan, kata yang bisa mewakili Gengsi Center ini. Berapa megah dan mewah pesta yang digelar menjadi faktor utama penentu kemeriahannya, juga prestise buat penyelenggaranya, setuju? Tamu undanganpun tak kalah mewah penampilannya (juga gede angpao-nya) supaya nggak kalah pamor. Eits, tapi jangan salah loh, kita nggak harus terpuruk dalam ukuran mono “Gengsi Center” ini untuk punya pesta yang meriah.

Aktif dalam kehidupan sosial adalah salah satu faktor pesta pernikahan jauh dari sepi, pastinya ada yang mau bela-belain datang. Selain itu, bisa dengan kiat menyelenggarakan pesta yang unik (kalau akad yang unik sih ada seorang teman saya yang akad di dalam Museum Kereta Api Semarang) #solusi dari Ekonom Gila

BEP tak terukur

Banyak hitung-hitungan dan kalau-kalauan kalau yang menikah itu ekonom ya? Bukan hanya masalah pesta pernikahan yang mencapai BEP tentunya, tapi dipikirin sampai “jika mereka akhirnya jadi pejabat ekonomi“. (banyak amat promo link dari tadi yak? hehehehe…)

Layaknya sebuah event, sebagai EO tentunya kita nggak mau rugi, tapi apa mau dikata wedding party bukanlah bisnis, ini adalah pesta untuk merayakan hari yang bahagia, dengan berbagai prosesi yang bikin pusingggggggggg tapi sekali seumur hidup untuk dikenang selama-lamanya, amin.

Maka, selenggarakanlah pesta pernikahan yang sesuai budget dan kepuasan kita pribadi, pikirkan faktor U, tapi abaikan stakeholder satisfaction (yang nikah kan kita ini bukan tamu undangan), jangan terpuruk dalam “Gengsi Center”, dengan demikian cucok dengan BEP pribadi kita yang tak terukur oleh siapapun! 🙂

Happy planning a personally perfect wedding party!