Perlakuan Akuntansi Perusahaan Manajemen Artis (Agensi) Terhadap Artis-Artisnya

8
365

Oleh: D.A. Rohmatika

Jika Anda adalah akuntan di sebuah perusahaan manajemen artis (agensi) di SM Entertainment (perusahaan agensi terkemuka di Korea), bagaimanakah Anda akan mencatat transaksi berkaitan dengan Girls’ Generation (salah satu girlband), artis dari SM Entertainment?

#pemahaman aset tetap yang tak selamanya hanya bangunan, tanah, dan mesin pabrik.

Perusahaan yang ada saat ini bermacam-macam, mulai dari perusahaan manufaktur (produksi sabun, susu, mi instan) sampai ke perusahaan jasa (produksi jasa audit, jasa konsultansi, jasa pembuatan skripsi). Semakin maraknya hallyu wave (alias demam artis-artis Korea) membuat saya ikut menikmati musik mereka, lanjut ke menikmati gosip tentang mereka, lanjut ke memahami proses dan ritme pembentukan artis (aktris/aktor, boyband/girlband, solo singer) di sana. Bahkan, Ekonom Gila pernah membahasnya pula di sini. Berbeda dengan Indonesia di mana setiap orang bebas dan bisa menjadi artis, artis di Korea harus diterbitkan oleh sebuah perusahaan manajemen artis. Dan akhirnya satu pertanyaan muncul: bagaimanakah perlakuan akuntansi perusahaan untuk para atis tersebut? Apakah mereka masuk aset, ekuitas, kewajiban, atau produk?


Perusahaan Manajemen Korea dan Artisnya
Ada banyak sekali perusahaan manajemen artis di Korea, antara lain: SM Entertainment (artis: TVXQ, Girls’ Generation, Super Junior, F(x), Shinee), YG Entertainment (artis: 2NE1, Big Bang), JYP Entertainment (artis: Wonder Girls, Miss A, 2AM, 2PM), dan Starship Entertainment (artis: Sistar, Boyfriend). Untuk mendapatkan artis, perusahaan manajemen ini melakukan berbagai macam cara, yang paling banyak dilakukan adalah mengadakan audisi.
Biasanya, audisi dilakukan untuk mencari talenta. Kasus girlband/boyband misalnya mencari orang-orang yang berbakat menyanyi dan menari, dan ada beberapa yang direkrut untuk visual (alias jual tampang). Di sinilah nantinya para artis harus menandatangani kontrak setelah lulus audisi untuk menjadi trainee dan akhirnya menjadi artis dari manajemen tersebut. Kontrak itu bisa bermacam-macam lamanya, salah satunya adalah “kontrak 13 tahun” dari SM Entertainment.
Setelah melalui proses menyakitkan di medan perang per-audisi-an dan teken tanda tangan kontrak, derita para artis ini tidak serta-merta berakhir karena masih ada yang namanya training. Masa training ini pun tidak main-main, berkisar dari satu sampai tujuh tahun untuk mengasah bakat para artis: menyanyi, menari, modelling, stage performance, camera facing, body shaping, dll. At the end, para trainee ini tidak semuanya diorbitkan. Ada yang dipindahkan ke agensi lain, ada yang akhirnya menjadi orang biasa karena satu dan lain hal. Bagi yang beruntung diorbitkan, tentu saja lagu, album, photo session, manggung, dan segudang aktivitas lainnya sudah dipersiapkan.


Para Artis Itu Masuk Akun Apa?
Terinspirasi oleh sebuah judul skripsi yang bertema “Perlakuan Akuntansi Pemain Sepak Bola Sebagai Aset di Klub XXX” (lupa pengarangnya, sepertinya anak BPPM Equilibrium dulunya) maka akhirnya perlakuan yang sama yang akan saya sarankan kepada para akuntan di SM Entertainment, YG Entertainment, JYP Entertainment, dan Starship Entertainment (narsis dan sedikit pe-de). Bagaimana bisa para artis itu masuk ke dalam aset? Aset tetap atau lancar? Bukannya seharusnya mereka diperlakukan sebagai produk dalam penjualan (sales)?
Opini saya untuk memasukkan mereka sebagai aset didasari oleh definisi aset yang saya peroleh. Menurut SFAC No.6 Paragraf 25, aset didefinisikan sebagai:
“Probable future economic benefits obtained or controlled by a particular entity as a result of past transactions or events.”
Sedangkan menurut PSAK No.16 Paragraf 6, aset tetap didefinisikan sebagai:
Aset tetap adalah aset berwujud yang:
  1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif
  2. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.
Artis-artis yang sudah dideskripsikan di atas, memenuhi berbagai karakteristik aset yang disebutkan oleh SFAC No. 6 tersebut maupun PSAK No. 16, yaitu:
Keuntungan ekonomi di masa mendatang, yang akan bisa didapatkan dari hasil manggung, penjualan album, maupun stage performance,
Dikontrol oleh sebuah entitas, di mana di sini adalah perusahaan agensi tersebut,
Dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan barang dan jasa, para artis itu dipergunakan untuk menyanyi dan menari yang akhirnya mengeluarkan produk berupa lagu dan album,
Diharapkan untuk diperunakan selama lebih dari satu periode, kontrak yang ditandatangani selama bertahun-tahun (bahkan 13 tahun) tentu saja melebihi satu periode/siklus akuntansi.
Jadi, pertanyaan-pertanyaan membingungkan akan bisa terjawab, seperti di bawah:


Mengapa para artis itu tidak masuk sebagai produk? Karena jika mereka masuk sebagai produk, tentunya penjualan (sales) yang bisa dilakukan terbatas hanya satu kali saja. Jadi mereka bukanlah produk.


Lalu mengapa mereka bukan diperlakukan sebagai aset lancar? Karena aset lancar dan aset tetap dibedakan menurut periode akuntansinya (yang sangat pendek bagi aset lancar, kurang dari satu periode akuntansi) atau keinginan awal perusahaan dalam mendapatkan aset lancar untuk segera dijual kembali.
Pencatatan Artis Sebagai Aset Tetap
Para artis yang diperlakukan sebagai aset itu tentu memiliki nilai perolehan. Menurut Meigs dan Williams, biaya perolehan aset tetap meliputi (Allfajriansyah, 2008): “All expenditures that are reasonable and necessary for getting the asset to the desired location and ready for use.” Hal ini berarti, nilai perolehan yang akan dicatat oleh perusahaan tidak hanya nilai yang tercantum di dalam kontrak, tetapi juga biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tersebut, seperti biaya mengadakan audisi. Bagaimana dengan biaya training dan biaya hidup si artis? Tentunya itu akan masuk ke dalam biaya (expense) karena telah masuk sebagai biaya pemeliharaan aset.
Sebagaimana aset tetap lainnya, aset tetap berupa artis ini tentu akan bisa terdepresiasi. Lama waktu ekonomis yang diakui perusahaan dihitung berdasarkan lama waktu yang tercantum dalam kontrak. Jumlah biaya depresiasi per tahunnya bisa dihitung dari biaya perolehan aset dibagi waktu ekonomis (bisa dihitung dengan berbagai metode, baik metode garis lurus, dll).
Beginilah jika seorang Ekonom Gila diminta menjadi akuntan perusahaan agensi. Tentunya opini ini jauh dari sempurna, jadi mari berdiskusi! Any opinions are accepted! Akhirnya, Girls bring The Boys Out!

*screaming* *akibat nulis sambil dengerin semua lagu-lagu Korea*

#pesan sponsor: lagunya Ailee yang “Heaven” bagus banget loh! Atau Sistar yang “Ma Boy”. Cocok buat orang yang baru coba dengar genre musik Korea, haha~
*dari berbagai sumber

  • halo salam kenal, lola dari universitas —–E disini 🙂

    percaya atau nggak, ini (perlakuan terhadap artis sebagai aset tetap) pernah nyaris jadi proposal skripsi saya looh semester kemarin, biarpun akhirnya diurungkan (pasti bakal dianggep ga serius soalnya -.-). padahal udah sampe nyari2 laporan keuangan SM, facts dan semacamnya, makanya begitu ngeliat artikel ini jadi teringat kembali hahaha

    tapi kayaknya kurang lengkap nih, intinya yaitu 'para agensi di korea itu memperlakukan artisnya sebagai apa?' kayaknya kok ga dijelasin ya… jadi mereka memperlakukan anak2 asuhnya itu sebagai apa? aset tetap? trus disusutinnya gmn coba?

  • Huwaaa~~~ mirip sekali yaaa 😀 sayang skripsinya nggak dilanjutin. Kalau iya, pasti oke! hehehe~~~

    Jadi Lola, berdasarkan penilaian di atas, para artis itu masuk ke dalam aset tetap karena karakteristiknya sama dengan aset tetap. Bisa dibaca di paragraf terakhir. Nah, kalau depresiasi, ya tinggal dihitung saja berdasarkan nilai perolehan (nilai kontrak+biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset) dihitung memakai masa manfaat (jumlah tahun dalam kontrak). Ketemu deh depresiasinya.

    Kalau nanti kontraknya diperpanjang, tentu akan masuk sebagai biaya yang dikeluarkan untuk menambah masa manfaat dan bisa dikapitalisasi, sehingga penghitungan depresiasi bisa diperbarui kembali (pelajaran Akun Keuangan Menengah 2, sudah agak-agak lupa caranya, hahaha~).

    Semoga jawabannya membantuuu~~~

  • Artis dikuasai dan dikendalikan oleh perusahaan sebagai aset, sejauh mana ya penguasaannya. Apakah sampai keseharian dan kehidupannya dikuasai? Lalu bagaimana pengukuran dan penilaian artis tersebut? Kalau semakin terkenal dan memberi dampak pada penjualan apakah itu terekam dalam akun aset tetap? Kemudian bagaimana jika sudah diakui sebagai aset perusahaan A lalu dia punya kontrak di perusahaan B pada waktu bersamaan.

  • Nature-nya mas, artis Korea gitu benar2 dikuasai sepenuhnya oleh Agency. Mereka diberikan manajer untuk ngurus jadwal dan kegiatan2 lainnya, tetapi semua kontrak untuk menggunakan mereka harus melewati agency itu. Jadi nggak mungkin ada kontrak dengan perusahaan lain di waktu bersamaan. Kalaupun misal perusahaan lain ingin memakai mereka (untuk main film, misalnya) kontraknya akan lewat agency artis itu. Dengan kata lain, mereka hanya diberi "allowances" yang bisa dikategorikan biaya pemeliharaan aset sebenarnya kan ya. Mungkin ada bonus2 gitu siy, di beberapa kali doang 🙂

  • keren ini artikelnya, pengennya juga ambil skripsi tentang ini ^^
    btw mau nanya.. kalo misalnya ada salah satu member dari group dikontrak main drama gitu, perlakuannya gimana? kaya' Suzy Miss A kan sering main drama tu.. apa aset tetapnya tu dinamai sesuai group atau perorangan? 😀

  • Kayaknya aset tetap itu diakui secara perorangan. Sering ada kasus trainee dari agency mana ternyata diorbitkan jadi anggota grup di agency yang lain kan? Pasti di balik layar ada transaksi antara dua agency itu.

    Di pertanyaan di atas berarti aset tetap itu akan dicatat per orangnya, ada yang sering digunakan untuk generate revenue dan ada yang tidak. Sama saja dengan kendaraan kantor misalnya, merek BMW dan Hino (truk) tentu penggunaannya berbeda juga kan? 🙂

  • Anonim

    susah cari laporan keuangannya SM Entertainment 🙁

  • wahh kereenn! baru nemu pembahasan tentang ini karena kepengen bikin skripsi tentang ini… kkk
    tadinya aku juga pikir artis masuk aset tetap, tapi kok dipikir2 lagi aneh ya? aku udah liat lapkeunya SM dan YG, dan disitu ga ada aset tetap a.n. nama artis. terus juga di kontrak antara artis dgn perusahaan manajemen artis itu ga ada nilainya, setau aku setelah browsing sana-sini, yang ada di surat kontrak ya cuma perjanjian bagi hasil. kontrak yang ada nilainya itu kalau misalnya ada pihak yg mau make jasanya si artis. nah kalo gini caranya, terus gmana penyusutannya? apa artis termasuk aset tetap yg ga disusutin macem tanah? tapi ga mungkin juga kan, soalnya nilai tanah tiap tahun biasanya akan naik, tapi nilai artis atau popularitasnya belum tentu sama atau malah menanjak dari tahun ke tahun?
    untuk sekarang aku simpulin artis sebagai karyawan. karena karyawanlah yang menghasilkan produk yg bisa menghasilkan pendapatan buat perusahaan. aset tetap memang digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan, tapi ga akan menghasilkan pendapatan. contohnya gedung, ya emang buat tempat kerja, membantu perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, tapi kalo ga ada yang membuat produk atau memberikan pelayanan jasa, ya ga akan dapet duit perusahaannya.
    artis kan sama kayak karyawan pada umumnya, yah walau dengan sedikit perbedaan. mereka sama2 kerja untuk dapet uang. bedanya cuma kalo karyawan pada umumnya ga peduli banyak atau dikitnya kerjaan, mereka dapet gaji yang sama atau bahkan dgn tambahan uang lembur. tapi kalo artis kan kalo ada kerjaan ya dapet duit, kalo ga ya ga dapet duit..
    bener ga sih? wkwkwk