Bekerja = Belajar + Dibayar

0
226
sumber: http://fhelc.com/wp-content/uploads/2010/09/Learning_fun.jpg

Rumusan itu saya dapatkan saat training awal sebelum bekerja menjadi seorang akuntan publik. Kenapa saya suka sekali membahas tentang akuntan publik? Jawabannya kira-kira mirip seperti: mengapa tukang bakso suka sekali bikin bakso dan bukan gado-gado (pertanyaan dan jawaban ini boleh dipikirkan, boleh juga diabaikan). Balik soal bekerja berarti belajar dan mendapat bayaran, tentu rumusan itu untuk membuat kita merasa “FUN” dalam bekerja.

Dalam prakteknya memang bukan berlaku yang sebaliknya. Kita belajar, kita “able” untuk bekerja sesuai standar. Waktu, tenaga, dan pikiran kita persembahkan (korbankan) untuk menyelesaikan pekerjaan yang diterima KAP kita dari kliennya. KAP mendapat bayaran, KAP membayar kita. Itu sih siklusnya, yang secara singkat dan menyenangkan kita singkat: bekerja = belajar + dibayar (pula).

Jujur, walaupun sudah kuliah 4 tahun lamanya, semua ilmu itu bagaikan menguap di udara. “What should I do?” ternyata nggak match dengan “what did I know.” Padahal udah training pula selama 2 minggu, dimulai dari hari pertama kerja. Di bagian pertama saya akan membahas tentang garis besar yang dipelajari selama training. Di bagian kedua, apa yang harus dikuasai saat pertama kali menjadi auditor publik.

Isi Training
Isinya kira-kira sama dengan isi textbook Auditing, dengan tampilan slide, modul, rumusan yang dapat diingat. Urutannya udah nggak ingat, tapi nggak ada salahnya mengingat-ingat yang teringat, dan kalau kurang boleh ada yang nambahin ya.

Pertama, pastinya nggak bikin stress. Sebagai bagian baru dari perusahaan, kenalan dengan perusahaan adalah wajib. Profil perusahaan dan standarnya, bagaimana cara berpenampilan, bagaimana cara menerima telpon (telephone courtesy), etika makan, bagaimana cara menghadapi masalah dengan asertif.

Kedua, mengerti dengan benar tentang bidang yang digeluti. KAP biasanya menyediakan service yang dinamakan jasa atestasi. Atestasi dapat disamakan dengan pendapat/opini, tetapi bukan sembarang pendapat loh. Opini yang dapat disebut sebagai jasa atestasi adalah opini yang berdasarkan tinjauan oleh seorang profesional, ada standarnya. Macam-macam audit pernah dibahas EG di link berikut.

Selanjutnya selama seminggu, yang mungkin selanjutnya akan dijelaskan satu per satu di postingan lain adalah: bagaimana alur audit, asersi yang diperlukan, tujuan audit yang ingin dicapai, strategi audit, resiko audit dan menentukan materialitas, memahami akun-akun BS (Balance Sheet) dan IS (Income Statement), pentingnya supervisi, dsb.

Yang Harus Dikuasai: Worksheet dan Working Paper
Bisa saya bilang sih nggak ada yang spesifik selain: dapat mengerjakan seperti yang dikerjakan tahun lalu. Itu rumusan gampangnya (padahal bikin meringis pas ngerjainnya, nggak semudah seperti yang kelihatan).

Lebih detail, pertama: harus bisa bikin worksheet. Caranya? Buka file tahun lalu, pelajari caranya dari rumusan Excel. Worksheet itu adalah perbandingan antara akun-akun BS (Balance Sheet) dan IS (Income Statement) tahun ini dengan tahun lalu. Tujuannya agar kelihatan fluktuasi (naik atau turunnya).

Kedua, bisa mulai dicicil dengan mempersiapkan Working Paper yang jadi tugas kita. Working Paper adalah kertas kerja yang berisi:  tujuan, fluktuasi, berbagai analisis, dan kesimpulan dari sebuah akun. Cara buatnya: lihat tahun lalu seperti gimana.

Saya rasa sih ketrampilan paling utama yang diperlukan adalah: bagaimana memahami petunjuk tertulis dan grafik, tinggal bikin seperti yang sudah ada. Simple. Tapi tetap aja tau caranya bukan berarti segala sesuatunya akan berjalan dengan mulus.

Yang Terpenting
Menurut saya, yang terpenting sih, rasa ingin tahu. Instingnya auditor jalan. Kalau memang punya rasa ingin tahu, didukung oleh menguasai teori audit, dan pandai memahami petunjuk tertulis, nggak akan ada banyak hambatan deh.

Kalau ada yang nggak jelas, bisa tanya sama senior yang mensupervisi. Kalau ada yang membingungkan dari data klien, bisa tanya ke klien. Liat-liat sikon juga sih kapan nanyanya. Yah, siapa juga yang nggak pengen nampar kalau kerjanya nanya terus. Dan bagaimana cara mendapatkan jawaban yang diinginkan saat bertanya, adalah sebuah softskill individual.

Mungkin perjuangan saya nggak lama menggeluti dunia perauditoran, tetapi pelajaran hidup terbanyak yang saya peroleh adalah saat meraba-raba di daerah ini. Dapat softskill. Again, curcol :p

SHARE
Previous articleTeruslah Terbang Merpati
Next articleOrang Miskin Naik Haji
I love: games, blogging, sharing idea, crafting, handmade, decorate, cloud, beach, seafood, laughing with sisters, and shopping alone.