Maaf Belum 8

0
98
Tell me synchronicity ain’t real mate’
this creature is wandering around the web since February 4, 2009 – 9:07pm
Made by Deer700’s
 atTeiboku’s updates (online)
and pop up right on Goog’s the moment I’m thinkin’ of it.
Time ain’t linear yach…
Heheheheh
Ok,
Barisan huruf soal pelemahan terhadap KPK telah kembali, wahai 99% yang tercinta.

Pengkondisian terukur atas tanda baca, sudut tampilan, derajat suhu kata, serta timing pemunculan dan cara menyebut deret angka yang apik, diharapkan dapat memperpendek nafas anda senantiasa. (ini semua demi kedataran hidup anda semua ! prdx).
Asal jangan sampai disusul aksi berikut yach… :

Jadi…
Coba lihat dan ingat, bentuk para pelaku (sudah divonis).
Lalu bawa dalam gelapnya hikmat, quotes (yang katanya) dari Rumi, berikut ini:

Coba ingat momen dimana isi kepala mendadak berisik,
di kala ajakan ‘tuk beli kacamata terbang Mbak Piktorya atau pun bungkus belalai lentur para Mas2 pengolah rumput, menari-nari di depan mata.
Coba ingat juga momen memuncaknya toleransi tinggi kuping anda, atas rangsangan getaran ber-amplitudo dan bertekanan udara tinggi yg berasal dari kendaraan berlabel

“Diet 20 tahun makan sayur doang”.

Ngikut yang alami ? Itu alami ?
Konon katanya,
Harmoni antara gerakan mulut dan tangan dengan tarian semesta tidak akan
menjadi kegiatan yang menggelitik bagian tengah badan ataupun menggelorakan tengkorak, leher, punggung dan selangkangan
jikalau,
otak tidak terkoneksi dengan hati (sampai kabel / jalurnya beneran terasa).
Ok, itu dulu soal persona,
sekarang bicara sistem.
Banyak penyelenggara konstitusi yang katanya jadi takut mengambil tindakan, akibat atau setelah (gitu ya ?) “lembaga -itu- menjadi terlalu sangar”.
Padahal kalo kata Pak Pemimpin saat kampanye,”orangnya baik-baik, orangnya pintar-pintar.”
(Mungkin ini yang bikin doi bisa jadi pemimpin).
Jadi masalahnya bukan otak, walau standar deviasi tetep ada sih.
Soal ganjaran atas kesalahan atau pelanggaran. Masih beredar opini berbau, “kurang berat”.
Mulai dari “si vital tengah2”-nya dimatiin, keglamoran-nya dimatiin (saya ndeso, maap klo salah eja) sampe seluruh hartanya disita negara.
Jadi, karena pekat langit malam berbanding lurus dengan pekatnya rasa kantuk gw,
maka gw share aja solusinya:
  1. Barang sitaan dari pelaku, dikonversi jadi ORI, SUN, aset2 setara obligasi bagi pemerintah Indonesia.
  2. 33% dari nilai kupon / imbal hasil wajar dari aset pada poin 1 dialirkan ke “Pelaku Fund”. Dengan gathering dilakukan secara berkala bagi seluruh pihak terkait (keluarga inti para pelaku termasuk pastinya).
  3. NAV masing2 keluarga para pelaku dapat dijadikan agunan untuk mengambil pinjaman produktif di Bank2 yang bersedia (orang elite, lobby udah pada punya lah ya).
  4. 66% dari nilai kupon / imbal hasil wajar dari aset pada poin 1, dialirkan ke pasar saham untuk membeli saham2 berkategori super growth namun masih berada di luar LQ45, saat longsoran dewa (ini para FM di sekur2 dan Jamsos pada paham banget. Kasih mereka yg urus deh….
  5. 0,9%  dari nilai kupon / imbal hasil wajar dari aset pada poin 1 dialirkan ke dana haji.
  6. Sisanya hibah untuk keluarga tersangka.
Jadi Saya termasuk gak setuju kalau harta koruptor disita negara.
Alasannya: masalah transparansi dan,
daya serap anggaran (rasa takut akibat si sangar, udah saya singgung tadi.)

Obligasi negara Indonesia dipilih demi mengurangi kemungkinan intervensi dari kreditur (negara lain serta entitas lainnya.) Juga memperbaiki risiko spill-over (inget komparasi antara kasus Yunani dan Siprus terkait pemegang obligasinya ?)

Penyertaan hasil penyelewengan kedalam pasar modal ini dapat meringankan hukuman para calon tersangka apabila tertangkap nantinya. (udah bantu mencegah rapat kabinet mendadak saban longsoran dewa, lumayan kan…).

Nanti kalau sudah terbiasa, para calon tersangka diharapkan tidak lagi terjebak dalam  herd mentalityyang berisiko menciptakan bubble harga suatu aset (denger2 rumah dan tanah Jakarta terjal banget slope up-nya gegara aksi para calon dan sudah tersangka…)

Selain itu, daripada currency2 hasil ngembat yang bukan hak-nya di pake beli daging mentah (belajar  juggling)  atau dilarikan ke luar negeri, ya mending jadi tanggul penyeimbang aliran hot money (jadi bos betulan lo pada).

It’s not like everybody’s gonna win this time,
but at least
the party are spreadin’ outta the rabbit hole.

Itu untuk mereka,

kalo untuk anda yang belum (ehem)
ataupun tau gak akan terjerat dan jadi tersangka,
ya…
pastiiin aja tetep napas sampe perut, agar lagu dan tari dari dalam diri, senantiasa harmoni dengan yg punya semesta.
not perfect yet ? keep thriving, ephemeralization !

Nite’ nite’

😉