won(RED)ing

1
96

Corong2 utama pengisi wawasan masyarakat seminggu lalu pada asyik kompakan menaikkan gelombang getaran dari suatu lembaga global bidang kesehatan, bahwasanya daging merah memicu kantong kering
(ooh… teringat daku akan imutnya rendang ama semur ‘maren)

Ok…

Ok…

padahal 3 meeeeh 2, minggu lalu mereka asyik bercengkrama dengan para bahan makanan lain (klo gw si, makan di rumahnya ehhhhm, daging merah, mending nunggu traktiran penuh, dr ongkos sampe perbekalan).

makes me won(RED)ing though…

hey, semua itu soal pikiran kan.

ada yg berkutat sama gengsi karena merasa seluruh dunia melototin dirinya
atau ngerasa santai aja karena yakin sluruh semesta ngedukung dan sayang ama dia.

termasuk soal daging merah tadi.

waktu kecil saya pernah motong ruas daging ujung jari saya sendiri
tanpa ada orang lain yang bilangin / memerintahkan,
jadi denger entah dari mana ya lakuin aja
di situ saya kenal warna daging saya sendiri (bukan “katanya” atau “dibilangin kalau”)
jadi merah itu adalah pijakan awal,
mungkin sudah menjadi masa lalu,
vitalnya memang di masa sekarang / saat ini / momen ini.

mungkinkah hal semacam itu hal eksklusif anak kecil ?
karena kalau orang dewasa, kan pasti sudah paham lampu merah,
hitung-hitung agar,
bapak2 tenang
ibu2 tenang
dirimu ya kapan2

apalagi ada benda, gagasan, fakta, citra, area, atau apalah
yg kalau kita gak dengerin,
kita bakal jadi objek “very rare (bleu, a cold raw center), rare, medium rare, medium, medium well done, or well done” (thanks wiki)  di sana.