The Islamic Version of Trickle Down Effect’s Theory

0
264
Sumber: http://www.englishblog.com/2011/10/cartoon-trickle-down-economics.html

Benjamin Ridwan Gunawan

Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang (katanya) paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang (katanya lagi) dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia.
Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangkat dua orang sisanya. Itulah harapan dan idealisme ‘Trickle Down Effect’. Negara memberikan akses dan kemudahan bagi orang-orang terkaya di tiap negara, dengan harapan aset kekayaan dari si kaya ini akan memberikan peluang (misal, lapangan pekerjaan) bagi si miskin untuk ikut menjadi kaya.
Namun realitanya tidak pernah seindah itu. Ternyata, saat orang pertama sudah naik, dia malah berleha-leha dan tidak membantu. Para kapitalis yang sudah diperkaya, dan diberi akses oleh negara, bukannya membantu rakyat miskin. Malah makin sibuk memperkaya dirinya sendiri tanpa memperdulikan kaum bawah.
Istilah ‘Trickle Down Effect’ pertama kali dikeluarkan oleh Ronald Reagen (Ex-presiden Amerika Serikat ke- 40) dalam suatu pidato kepresidenannya di mana dia mengumumkan pemotongan pajak besar-besaran bagi orang-orang kaya, suatu keistimewaan yang dia klaim akan “merembes” ke seluruh rakyat.
“The ‘Trickle Down Effect’ is a now-discredited theory of distribution which holds that the concentrartion of wealth in a few hands benefits the poor as the wealth necessarily “Tricles down” to them, mainly through employment generated by the demand for personal service and a result of investments made by the wealthy” (Levy and Weitz, 2009).
Sebenarnya konsep ‘Trickle Down Effect’ ini mirip dengan sebuah ajaran dalam Islam. Bermula dari seorang sahabat Rasul Saw bernama Amr bin Al Jamuh yang berumur cukup tua bertanya pada Rasulnya karena terdorong untuk memberi dan berbagi kepada sesama, “Wahai Rasul, aku punya sejumlah harta, bagaimana cara aku menyedekahkannya dan kepada siapa aku infakkan?”
Rasulullah berpikir. Beliau belum mendapatkan ide untuk menjawab pertanyaan ini. Sesaat kemudian, datanglah firman Allah Swt dalam ayat sebagai berikut:
“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaknya diberikan kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Al-Baqarah: 215)
Inilah asal mula ilmu yang akhirnya diadopsi menjadi ilmu ‘Trickle Down Effect’. Pada ayat di atas memiliki ikhtisar, jadilah manusia yang berkecukupan. Milikilah perekonomian jauh di atas rata-rata. Maka saat kekayaanmu lebih dari cukup, berikanlah sebagian kekayaanmu pada orang-orang sebagai berikut:
1.       Orang tuamu
2.       Kerabat terdekat
3.       Anak yatim
4.       Orang miskin
5.       Ibnu Sabil
Islam memberikan solusi bagi perekonomian kita untuk menjadi lebih baik. Dan semua itu telah diatur karena aturannya turun dari Allah langsung. Setiap individu manusia memang dituntut untuk kaya, dan memberikan sebagian kekayaannya pada orang lain, yang urutannya telah diatur dalam Islam.
Trickle Down Effect’ merupakan ilmu yang mengadopsi dari ilmu Islam, namun tidak secara utuh, menjadikan perekonomian bangsa kita masih carut marut sampai sekarang. Karena sistem perekonomian yang kita anut adalah sistem tiruan dari sistem aslinya yang tidak dilaksanakan sesuai ilmu aslinya. Pada dasarnya ‘Trickle Down Effect’ adalah sistem yang pelaksanaannya Top-Down, sedangkan Ilmu yang diajarkan Islam (sebut, ‘The original of Trickle Down Effect’) pelaksanaannya adalah Bottom-Up. Sebagai individu yang memiliki akal pikiran dan tubuh, berhenti banyak berbicara dan ambilah tindakan. Perubahan besar tercipta mulai dari diri sendiri, kemudian merambat ke sekitar anda.
Refference:
1.     Michael Levy and Barton A. Weitz, 2009,“Retailing Management. 7 ed”, Publisher: McGraw-Hill Irwin.
2.     QS. Al-Baqarah: 215