Sunk Cost Fallacy: Alasan Rasional untuk Melupakan Masa Lalu

2
2875
sumber: http://aadc2.com/images/home/slide-1-min.jpg

Akhirnya, setelah bertahun tidak menulis di Ekonom Gila, tara! Saya nulis lagi, (kemana aja loe Ul!). Maaf kakak-kakak dan adik-adik sekalian, saya terjebak dalam rutinitas kerja saya (alesan), untungnya sekarang sudah berhasil “keluar” dari sana dan sekarang sedang menapak dan menatap masa depan yang lebih baik. Hahahaha.

Oke cukup curhatnya, kembali ke topik.

Sebagaimana manusia pada umumnya, seringkali kita akan sulit sekali melupakan masa lalu. Penyebabnya banyak, mulai dari nilai masa lalu yang terlalu indah untuk dilupakan, ingatan seseorang yang baik tentang detail masa lalu, hingga situasi-situasi lingkungan sekitar kita yang masih saja ada keterkaitannya dengan masa lalu itu. Ya, masa lalu itu memang pelik untuk dilupakan (loh ini kok kayaknya curhat lagi, ayo dong Aulia move on! hahah).

Sebuah buku berjudul The Art of Thinking Clearly oleh Rolf Dobelli mengingatkan saya sebuah gejala sesat pikir yang dinamakan sunk cost fallacy. Sebagai mahasiswa ilmu ekonomi, istilah sunk cost adalah hal yang tidak asing bagi saya. Tapi, baru kali ini saya menyadari istilah ini memberikan pencerahan tersendiri bagi saya soal keputusan mengambil sikap di hari ini, untuk masa depan dengan mempertimbangkan masa lalu.

Secara singkat dan bebas, pengertian sunk cost adalah sebuah kos atau nilai moneter yang pasti harus sudah keluar dan tidak bisa diambil kembali ketika sudah memulai sebuah projek atau kegiatan. Entah, kegiatan itu mangkrak di awal, gak jadi dijalanin, stop ditengah-tengah. Pasti ada nilai yang harus rela dilepaskan dan tidak bisa diambil lagi, mesikpun empunya kegiatan, ambil contoh menjual kembali aset-aset atau sumber daya. Maka, dari kesadaran ini, dampaknya adalah sunk-cost bukanlah sesuatu yang rasional untuk kita pertimbangkan lagi dalam keputusan-keputusan (terbaik) bagi masa depan kita.

Misalnya seseorang bernama Budi, yang karena tepengaruh iklan-iklan dari Film Batman vs Superman (yang trailernya saja bikin heboh sampai dibuat launching khusus), menitip tiket kepada Ani, kekasihnya, untuk H+7 pasca premier tayang di bioskop-bioskop kesayangan Anda (Budi adalah pegawai sibuk yang suka dinas keluar kota sana-sini sehingga tidak sempat untuk nonton tayang perdana film-film keren). Di sisi lain, Ani memiliki kartu kredit yang super canggih sehingga bisa membuat dia membeli tiket jauh-jauh hari. Setelah satu hari tayang perdana, wow! Hasilnya film itu memiliki rating yang sangat rendah, kritik negatif di mana-mana, hujatan orang banyak berkeliaran di dunia maya. Apa pilihan rasional yang harus Budi lakukan?

Ani berpikir bahwa, “Kita sudah terlanjur membeli tiket, sayang kalau nggak dipakai”.

Budi (karena lulusan Ilmu Ekonomi) lalu beragurmen, “Nilai dan film itu, sesungguhnya jauh di bawah nilai 2 jam kita yang berharga untuk hal lain. Hmm..maksudnya…begini biaya menghadapi kebosanan selama 2 jam di teater terlalu besar untuk dipertahankan, ketimbang nilai tiket itu sendiri, hmmm…maksudnya gini…toh, nonton atau tidak nonton, tiket sudah kita terlanjur bayar sayang, jadi lupakanlah…kita cari kesenangan yang lain….”. Budi berusaha menjelaskan logikanya pada kekasihnya dengan hati-hati. Sang kekasih adalah lulusan fakultas Isipol yang asing dengan dengan logika-logika ekonomi sehingga harus diajarkan pelan-pelan (maaf ya anak Isipol! Belum dapat contoh anak jurusan lain.. Hehehehe).

Sejatinya logika Budi ini benar, karena biaya tiket sudah dikeluarkan sehingga nilai tiket itu bukan lagi konsideran untuk memilih apakah film ini harus saya tonton atau tidak. Variabel-variabel lainlah yang justru harus dipertimbangkan untuk masa depannya: review dari film itu dari para kritikus film, adanya film lain yang lebih bagus, adanya kegiatan lain yang lebih menyenangkan untuk dilakukan. Ya! Jika akhirnya, apes-apesnya, si Budi tidak ada opsi-opsi lain yang lebih baik ketimbang duduk bosan menonton film Batman vs Superman 2 jam (sambil ngantuk dan tertidur), maka memilih tetap menonton film Batman adalah jawabannya. Ingat, bahwa iya memilih tetap menonton film itu bukan karena “variabel” harga tiket yang sudah dibayar tapi karena faktor yang lain. Karena variabel itu udah sunk alias tenggelam di bumi ini dan tidak perlu diindahkan lagi.

Lalu apa hubungannya dengan tema “Masa Lalu” seperti pada judul pada artikel ini? Banyak dari kita sering kali gagal move on karena selalu beralasan…

“Terlalu besar uang dan tenaga yang sudah saya keluarkan untuk bisnis ini, saya tidak akan berhenti menjelanankannya”. Padahal faktanya: bisnis ini pasti akan mati, pasar sudah tidak ada, jaman sudah berubah.

Atau

”Saya sudah banyak mengorbankan energi untuk menjaga hubungan ini, terlalu terlambat bagi saya untuk pergi meninggalkannya”. Padahal faktanya: kekasihnya selalu menyakitinya, dia tidak bahagia, dia tahu masa depannya suram dengan kekasih ini, dan malahan ada orang lain yang sebenarnya jauh lebih mencintainya ketimbang kekasihnya yang sekarang.

Banyak dari kita, yang terjebak dalam sesat pikir ini – sunk cost fallacy – dengan beberapa alasannya adalah untuk menjaga muka, harga diri, atau dalam rangka menjaga konsistensi. Ya, menjaga konsistensi adalah hal yang baik, tapi kita harus cermat memilah-milah mana konsistensi yang memang memberikan kebaikan dalam jangka panjang serta kepada banyak orang dan mana konsistensi yang berujung pada jurang penderitaan dan kesengsaraan. Konsisten salah, ya tetap salah, walau ia konsisten bukan? Sudah lama perusahan Aérospatiale dari Perancis dan the British Aircraft Corporation (BAC) dari Inggris tahu bahwa menjalankan bisnis komersial pesawat supersonik, Concorde tidaklah bakal membawa keuntungan yang besar, malahan kerugian. Namun, untuk menjaga muka, proyek ini dipertahankan bertahun-tahun dari tahun 1976 hingga 2003.

Hikmahnya adalah masa lalu memang tidak dapat dipungkiri bagian dari kehidupan kita (seperti pada artikel saya tentang Random Walk Model beberapa tahun yang lalu di sini). Tapi, ada bagian dari masa lalu yang sejatinya tidak perlu lagi kita hiraukan, karena ia adalah kronik kehidupan kita yang masuk dalam kategori sunk cost. Ia telah tenggelam dan terkubur. Pilihannya adalah, apakah kamu ingin ikut tenggelam dan terkubur bersama mereka… atau, kamu selalu melihat variabel-variabel dan alasan-alasan yang logis untuk masa depan mu?

Baiklah, logika berpikir ini juga tidak serta merta membuat kamu membabi buta untuk begitu saja melupakan hal-hal yang ada dari masa lalu dalam mengambil sebuah keputusan. Ingat bahwa kesadaran berlogika ini adalah agar kita lebih awas dalam melihat segala fenomena yang terjadi tentang sunk cost fallacy dan bagaimana kamu bersikap menghadapinya.  Hal yang mungkin agak tricky adalah bagian di mana kamu benar-benar dapat membedakan mana hal yang memang layak untuk kamu pertahankan dan perjuangkan – karena kamu tahu bahwa “investasi” di bidang itu membutuhkan waktu untuk memetik buah hasil perjuangannya – dan mana yang kamu benar-benar tahu ia sudah tidak rasional untuk dipertahankan.

Misalnya… apakah Cinta masih rasional untuk menjaga dan mempertahankan cintanya kepada Rangga, setelah diacuhkan bertahun-tahun tanpa kejelasan? Apakah Rangga layak kembali ke pangkuan Cinta? Ada Apa dengan Rangga? Apakah Rangga, Cinta dan film AADC “1” hanyalah sebuah sunk cost dalam kehidupan percintaan muda anak remaja yang sekarang sudah bapak-bapak dan ibu-ibu?

Daripada spoiler lebih baik kalian nonton sendiri aja ya filmnya! Hahahahaha

Jakarta, 10 Mei 2016

AR

  • Wah rusuh mas aul, ngapa pake fisipol hahaha

    • Aulia Rachman Alfahmy

      Soalnya yang paling sering menyerang anak ekonomi adalah anak isipol… jadi aku balas dendam aja… ekekekekekek #kidding