Salesman Introduction: Surga dan Neraka

ngeles aja ah

0
486
sumber: http://insidethegate.com/wp-content/uploads/2015/12/HeavensGate.png

Seluruh profesi kini sedang panik tidak karuan dihadapan Tuhan. Tuhan sedang menghakimi dan mangadili profesi masing-masing apakah masuk surga atau neraka. Kepanikan mereka tidak beralasan, pertama karena seorang dokter baru saja dijebloskan ke neraka karena Tuhan tau sang dokter bukannya menyelamatkan nyawa malah menjadikan profesinya untuk mengumpulkan uang. Tuhan baru saja menjebloskan bankir ganteng, rapi nan baik hati, tapi ya semua tau bankir makan bunga bank jadi wajar sih. Mereka semua berharap menjadi seorang guru yang baru saja masuk surga karena mengajar dengan tulus dan cinta.

Saya masih ingat masa pertama memulai jadi salesman, memulainya menjadi taskforce di Kalimantan sana. Mengikat 6 karton produk ke motor dan keliling berjualan menawarkan barang. Enam karton sudah terasa amatlah berat di motor, dan saya sudah mengeluh tambah sumpah serapah. Tidak terbayang ketika kadang melihat sepeda motor dengan muatan kerupuk hingga lebih diatas kepala. Belum lagi ketika pulang masih membawa barang sisa, ini berarti menambah beban untuk besok. Sial.

Singkat cerita, saya diminta bertanggung jawab pada hal lain dan mencari pengganti. Mencari salesman adalah hal yang sulit, sama seperti menemukan jarum dalam tumpukan jarum. Ini ada pekerjaan, banyak yang maju. Kerjanya jadi sales, lebih banyak lagi yang mundur. Tersisa beberapa orang dan sekarang terpaksa harus memilih yang terbaik. Semua memiliki keinginan keras bekerja, semua memiliki minimal ijazah SMA, syukurlah mungkin mereka semua bagus. Seorang teman memberikan saran untuk untuk mengetes mereka dengan matematika dasar perkalian pembagian sederhana. Kemudian semua kandidat gugur :/

Akhirnya terekrut dua kandidat setelah beberapa hari berlalu. Mereka tidak terbaik tapi setidaknya cukuplah untuk memenuhi syarat minimum komunikasi dan matematika dasar. Karena tau begitu susahnya mencari salesman saya memulai dengan pelan perlahan (kalo yang pengalaman langsung pecut :P). Satu hari berlalu keduanya tidak memenuhi target, oke baik-baikin masih awal pengenalan. Hari kedua yang satu sudah tidak hadir. Hari ketiga dua-duanya sudah tidak hadir :/

Beruntung saya, satu yang mundur masih dapat dihubungin dan mau ketemu untuk sekedar mencari tau penyebabnya. Ngobrol singkat dan saya mulai menjerumuskan ke pertanyaan kenapa kamu tidak kerja lagi. Panjang kali lebar dan segunung alasan dikeluarkan, tapi karena saya sudah mengalami dan merasakannya maka dua ombak samudra saya balaskan. Targetnya susah pak, dulu saya juga baru tapi bisa kok – capek pak sama takut sakit, semua emang capek dan kamu dapet jamkesmas – motornya masih pinjem punya saudara ga enak, saya pinjami motor. Saya betul-betul frustasi dan bagaimanapun caranya harus punya salesman taskforce. Hingga akhirnya dia bilang, maaf pak sebenarnya saya diterima kerja jadi kuli angkut di sana.

Dari situ saya sadar, bahwa pekerjaan salesman lebih rendah dibandingkan seorang kuli angkut.

Bekerja untuk Bersusah

Seorang teman pernah berkata seketika saya lulus kuliah dengan status pas-pasan, “Selamat menjadi pengangguran bung, selamat menghadapi cobaan hidup sebenarnya”. Tidak jelas apa maksudnya, tapi yang jelas memang saya menjadi status pengangguran terbuka dalam arti sebenarnya (sekarang juga nganggur XD). Saya sudah lulus SD, lulus SMP, lulus SMA, dan sekarang lulus kuliah. Jika diibaratkan dalam rantai makanan (uraian zat tanah – cacing – ayam – elang), saya adalah elang. Elang yang dengan gagahnya terbang menjadi seorang karnivora terbesar dalam rantai makanan. Elang bisa makan cacing ataupun ayam, ataupun daging lainnya. Lulus kuliah menjadikan saya sebagai karnivora terbesar dalam dunia pekerjaan.

Tapi apalah saya ketika menjadi salesman. Pekerjaan yang lebih rendah dari seorang kuli angkut. Tapi menjadi salesman membuat saya belajar. Menjadi salesman tidak membuat ayam tetap menjadi ayam maupun elang tetap menjadi elang. Menjadi salesman adalah belajar mati terurai menjadi tingkat terendah dalam ekosistem rantai makanan dan terus berubah dan berkembang hingga bisa menjadi predator tertinggi yang sebenarnya, lebih tinggi dari elang sebelumnya.

Hal tersebut didukung oleh fakta di lapangan. Selama di lapangan dan bertemu dengan orang-orang tinggi di bidang sales baik itu manajer hingga direktur. Satu hal yang sama, mereka semua pernah merasakan rasanya menjadi salesman di lapangan yang berpanas-panasan. Mereka semua merasakan terurai menjadi kasta terendah dalam ekosistem dan menjajaki karirnya dari bawah hingga keatas. Mereka semua selalu memberikan saran yang sama, selalu memulai hal dari bawah dan lalui prosesnya satu persatu. Tidak ada jalan pintas, jalan pintas keatas sama dengan jalan pintas menuju jurang yang jauh lebih dalam.

Akhirnya saya mengerti makna cobaan hidup dan makna lulus itu sendiri. Lulus kuliah dengan ilmu tinggi bukan berarti saya bisa dapat pekerjaan yang enak. Pekerjaan dengan ruangan AC, kerja teng-teng, suruh sana suruh sini, duduk sambil ngopi dan nonton tivi. Cobaan hidup ini adalah mengamalkan apa itu nilai-nilai dan ilmu yang didapat dahulu. Menjadi salesman berarti menjadi terurai dan memulai sesuatunya dari bawah hingga atas untuk dapat menghormati setiap posisi. Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk.

Tuhan kemudian memanggil seorang polisi untuk menghadap,

“Tuhan saya di dunia seorang penegak keadilan, saya menjaga perdamaian dan keamanan di masyarakat. Menghukum yang bersalah, membela yang benar dan melindungi yang lemah”, saksi polisi

“Hatimu berkata lain, kau senantiasa memeras yang lemah, menegakkan keadilan untuk sebagian orang, mudah disuap dan acuh terhadap masyarakat”, ujar Tuhan

Pintu Neraka terbuka dan seorang polisi tersebut masuk ke Neraka.

Kini tibalah saatnya seorang salesman, mukanya sedari tadi berbeda dengan yang lain, datar dan tidak menunjukkan panik atau keraguan.

“Tuhan . . .” ujar salesman

Seketika pintu surga terbuka dan Salesman tersebut masuk Surga.

Warga neraka dan seluruh warga yang belum diadili bingung dan aneh melihatnya. Yang diucapkan salesman tersebut hanyalah menyebut “Tuhan”. Warga kemudian meminta penjelasan kepada Tuhan apa dibalik semua ini? Warga neraka juga unjukrasa protes atas keputusan Tuhan, mereka yakin Tuhan telah disuap seperti kebiasaan umumnya salesman.

Tuhan menjawab, “ Salesman di dunia hidupnya sudah seperti di neraka. Kalau kumasukkan di neraka dia sudah terbiasa dan tiada arti baginya. Maka kumasukkan dia ke surga agar merasakan siksa surga”.

 

@#$%^&**X))