Masihkah Dunia Membutuhkan Profesi Ekonom? (Part 1)

2
1198
sumber: http://goo.gl/mGPgoZ

Nampaknya, ada situasi yang berbeda antara kebutuhan ekonom masa kini dibandingkan dengan kebutuhan akan profesi ini di masa “lalu”. Sebagai pengingat, saat ini, kita semua dihadapkan dengan situasi yang santer dikenal dengan 4th Industrial Revolution, di mana kombinasi antara big data, real time information, kecepatan konektivitas data yang tinggi, sensor informasi di lapangan, dan lain sebagainya, membuat keputusan bisnis dan bahkan rekayasa pembuatan barang-brang purna rupa menjadi lebih cepat dan efisien tanpa menanggalkan aspek kualitasnya. Pasar abang-abang ojek, yang baru sekitar tahun 2014 masih bisa kita sematkan untuk tempat-tempat seperti: pangkalan, perempatan, dan ujung gang, sekarang sudah berubah menjadi pertemuan penawaran­­-permintaan di ujung genggaman tangan: smartphone. Kombinasi platform, bahasa pemrograman dan algoritma membuat pasar fisik dapat benar-benar terwujud dalam sebuah perangkat yang memiliki antar-muka yang nyaman. Teknologi itu semakin murah dan affordable untuk konsumen. Sekalinya menyentuh titik di mana sebuah barang itu feasible, maka dengan mudah dapat teknologi dijalankan dalam kontek bisnis dan profit. Lalu apa hubungannya semua itu dengan profesi ekonom?

Ekonom: Kemampuan Analitik dan Prediktif

Sumber: http://shbabbek.com

Hampir 10 tahun yang lalu (sekitar tahun 2007-an), saya menulis sebuah artikel untuk bulletin himpunan jurusan mahasiswa di fakultas saya yang judulnya cukup nyentrik: Ilmu Ekonomi: Ilmu Kedokteran dengan Jutaan Pasien dalam Satu Kali Praktik, saat itu saya berpendapat bahwa cara kerja seorang ekonom dalam menyelesaikan masalah sangatlah mirip dengan seorang dokter. Ekonom terbiasa dengan konstruksi berpikirnya yang yang analitik dan memiliki intuisi yang terlatih untuk memprediksi fenomena-fenoma ekonomi. Terlepas dari kegagalan ekonom menjaga dunia dari krisis ekonom global, Robert J. Shiller, peraih Nobel Ekonomi 2013 pernah menuliskan jasa-jasa ekonom dengan elegannya dalam artikel What Good are Economist?

Shiller mengutip hasil pengamatan Robert Litan (yang dalam ditulis dalam bukunya Trillion Dollar Economist) bahwam profesi ekonom memberikan kontribusi setidaknya $2 triliun bagi US dan dunia dalam bentuk pendapatan dan harta kekayaan. Jika dibagi dengan jumlah ekonom yang sekitar 20.000 orang (jumlah anggota American Economic Association), Shiller mengira-ngira bahwa kontribusi satu orang ekonom adalah sebesar $100 juta per ekonom. Wow angka yang tidak kecil bukan?

Kontribusi ekonom yang memang bersifat tidak kasat mata ini memberikan kemudahan-kemudahan bagi perusahaan ataupun individu untuk menentukan pilihan hidupnya yang paling optimal. Hal yang paling dasar adalah bagaimana ekonom mampu menganalisa sumber masalah dan memberikan rekomendasi-rekomendasi kebijakan (atau saran) kepada siapa pun itu untuk urusan ekonomi dan hal yang terkait. Hasil akhirnya berupa keadaan yang jauh lebih baik bagi siapaun yang ingin mendengarkan resep-resep ekonom.

Dari Mana Kemampuan Ekonom ini Datang?

Sumber: http://bidik.co

Entalah, tapi ini masih perkiraan atau hipotesa saya saja. Kemampuan ekonom datang dari kecakapan ia dalam memahami teori-teori umum dalam gejala ekonomi, kedalaman wawasan dia dalam membaca data di masa lalu yang empiris, ketelitian ia dalam melihat dan menangkap anomali-anomali atau kejadian yang tidak normal dan akhirnya kejernihan visi dalam menyatakan tren ke depan hingga memberikan opsi-opsi kebijakan dengan segala pertimbangan cost­-benefit yang akan dihadapi. Hasil akhirnya, mungkin secara sederhana semacam Top To do Do List atau Do’s and Don’ts (walau tidak bisa sesederhana itu juga).

Terkadang kemampuan ekonom bersifat intuitif. Teringat saya pada suatu kuliah, dengan Muhammad Ikhsan (yang saat itu sedang menggantikan Pak Boed yang berhalangan mengajar) di kelas Perekonomian Indonesia, beliau menyampaikan bagaimana Pak Boed ketika menjadi salah satu pemangku jabatan di Bank Indonesia sebelum krisis ekonomi Indonesia tahun 1997, sempat meminta ia untuk memeriksa data utang swasta Indonesia. Saat itu, mungkin ketersediaan data tidak secepat dan semudah sekarang. Muhammad Ihksan menekankan, saat itu seolah-olah Pak Boed memiliki “firasat” bahwa ada hal yang “aneh” dengan perekonomian Indonesia. Mungkin di saat itu, tidak banyak ekonom yang benar-benar peka dengan situasi ekonomi yang ada karena keterbatasan wawasan, jam terbang dan spesialisasi. Meskipun pada akhirnya, Indonesia harus benar-benar menghadapi krisis besar tahun 1997, akan tetapi hal ini membuktikan bahwa “firasat” seorang Pak Boed ini make sense. Lalu apakah firasat ini datang dari hal-hal bersifat klenik? Atau semacam wangsit dari roh nenek leluhur?

Sumber: http://bigthink.com/errors-we-live-by/kahnemans-mind-clarifying-biases

Mungkin ini yang oleh Daniel Kahneman (Pemenang Nobel Ekonomi 2012) dalam bukunya yang berjudul Thinking Fast and Slow, disebut dengan istilah kerja otak system 1 yang lebih bersifat cepat, intuitif, dan emosional. Kerja otak system 1 muncul dari hasil kejadian/kegiatan ripitasi berulang-ulang juga kerja otak background yang berjalan tanpa disadari. Ya, mungkin hal ini yang disebut dengan kecapakan yang didapatkan dari jam terbang. Sebuah proses yang karena berulang-ulang tanpa sadar membentuk alogritma tersendiri di otak kita untuk dijadikan sebagai alat menangkap, merespon dan menjawab detail situasi serta permasalahan di lingkungan kita. Otak yang bekerja di belakang layar dan pada akhirnya memberikan kepada kita sebuah intuisi yang biasanya akan sulit untuk kita langsung dapat jelaskan kepada orang lain. Bahasanya gaulnya gini, “Pokoknya gue yakin deh! Percaya sama gue!”

(bersambung…)

Masikah Dunia Membutuhkan Ekonoma (Part 2)