Masihkah Dunia Membutuhkan Profesi Ekonom? (Part 2)

3
650
Sumber: https://goo.gl/EdisuL

Kecerdasan Buatan/Artificial Intelligence (AI) dan Big Data

Tahun 2016 mungkin saja menjadi tonggak penting bagi perkembangan teknologi AI. Mengapa? Karena pada akhirnya kecerdasan komputer mampu mengalahkan manusia dalam permain Go. Kecerdasaan buatan bernama Alpha Go buatan Google Deepmind berhasil mengalahkan juara dunia Go dari Korea, Lee Sedol. Apakah hanya karena bisa mengalahkan manusia di permainan Go, sudah menjadi tonggak sejarah penting?

Bisa jadi iya. Jika dibandingkan waktu pertama kali juara catur dunia dikalahkan oleh komputer tahun 1994 (Chess Genius melawan Kasparov), takluknya jawara Go oleh komputer baru dapat terjadi 22 tahun kemudian. Itu pun, belum menghitung beberapa pertandingan catur komputer vs manusia yang sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 60-an. Ya, Go adalah sebuah permainan yang memiliki kompleksitas probabilitas langkah yang amat jauh lebih banyak ketimbang permainan catur. Dibutuhkan sebuah prosesor yang super-duper-ultra-amat-cepat-sekali bagi sebuah komputer jika ingin dapat menghitung dan mengkalkulasi semua kemungkinan langkah-langkah lawan ke depan. Opsi langkah permaianan Go, yang terdiri dari 19×19 kotak ini, diestimasi bahkan lebih banyak dari atom yang ada di alam semesta! Komputer mana yang nggak meledak kalau disuruh menghitung itu semua?

Sumber: http://www.kotaku.com.au/2016/03/starcraft-could-be-the-next-frontier-for-googles-alphago-ai/

Hank Green, seorang vlogger terkenal yang mengulas banyak hal tentang science, menjelaskan dalam Channel Yotube SciShow, bagaimana sebenarnya teknologi AlphaGo mampu mengalahkan Lee Sedol bekerja. Alih-alih menggunakan perhitungan semua probabilitas langkah yang ada, AlphaGo memelajari “sejarah” gerakan-gerakan baik atau buruk yang sudah ada di databasenya kemudian merekam hal-hal baru, memelajarinya dan menggunakannya untuk mengambil keputusan gerakan yang baru di masa akan datang. Nah, dengan teknologi AlphaGo ini akhirnya sampailah juga era di mana komputer berhasil mengalahkan manusia dalam sebuah permainan yang menjadi salah satu permainan terkompleks dan tertua dalam peradaban manusia ini.

Hmmm, well sudah terasakan suasana isu “ekonom”-nya?

Teknologi AI ini jika dikombinasi dengan era big data di ranah ekonomi dan finansial mungkin saja dapat menciptakan sebuah kercedasan ekonom buatan yang handal. Ini bukannya fenomena yang tanpa persiapan. Bahkan saat ini di Wall-Street, para pengambil keputusan jual-beli di lantai bursa saham telah banyak dilakukan oleh algorithm-trader. Sehingga pertarungan di lantai bursa bukan lagi antara para broker akan tetapi bagaiman algoritma satu mampu mengalahkan algoritma yang lain.

Bagaimana Rupa Ekonom di Masa yang Akan Datang?

Sumber: https://ceasefiremagazine.co.uk

Lalu dengan teknologi dan infrastruktur yang sudah semakin masif tersedia saat ini, apakah kecerdesan komputer pada akhirnya mampu meggantikan posisi ekonom. Ketika kerja “otak” AI sudah mampu melakukan mimikri dengan kerja otak manusia, seperti menangkap pengalaman masa lalu, mempelajari mana langkah yang salah dan mana langkah yang benar, melakukan prediksi dengan menerawang kemungkin terbaik di masa depan, bukankah otak seorang ekonom sudah dapat digantikan?

Apakah ini khayalan belaka? Coba sekali-kali tonton video  berjudul Humans Need Not Apply, yang dibuat CGP Grey. Terlihat jelas bahwa teknologi yang selalu berkembang akan menyingkirkan satu pihak untuk tidak lagi dibutuhkan di dunia ini. Ambil contoh gampang, bagaimana dahulu kuda yang menjadi tulang punggung aktivitas manusia (perang, bertani, kendaraan pribadi, dll) saat ini fungsinya sudah benar-benar tergantikan. Apakah hal-hal yang bersifat pekerjaan kasar saja yang dapat digantikan manusia? Tidak, bahkan dalam hal menciptakan lagu dan menulis, sudah ada teknologi yang bisa menggantikan manusia.

Lalu, jika demikian, apakah siklus-siklus krisis finansial dan ekonomi yang selama ini hadir menghiasi wajah peradaban mansuia akan segera teratasi dengan bantuan teknologi yang super pintar ini? Bagaimana jika ada suatu masa penasihat ekonomi Presiden adalah sebuah komputer canggih yang dapat mengetahui kebijakan pajak seperti apa yang tepat? Jenis asuransi kesehatan apa yang harus digunakan? Kapan kebijakan impor dan operasi pasar harus dilakukan? Berapa kenaikan harga BBM yang harus dilakukan dan kapan? Itu baru peran-peran ekonomi di ranah publik, bagaimana dengan peran mereka di ranah privat. Masih banyak ruang baik AI untuk masuk ke ranah ekonomi lebih jauh.

Lagi-lagi bagi saya jawabannya adalah entalah. Tapi jika memang kenyataan-kenyataan itu adalah sesuatu yang akan benar-benar terjadi, di mana peran ekonom bakal benar tergantikan, paling-paling di masa yang akan datang ekonom akan terdiri dari dua tipe. Pertama ekonom yang hanya berperan sebagai pengamat dan kritikus. Entah bagaimana caranya, ekonom ini adalah tipe-tipe yang akan memberikan pernyataan apapun selama pernyataan itu adalah kontra dengan kebijakan pemerintah. Baik tujuannya mulia yaitu dalam rangka “berdialektika” atau hanya sekedar menjadi ekonom yang haus akan sensasi dan kontroversi tanpa isi.

Kedua, mungkin saja ekonom ada yang akan berperan kembali menjadi seorang pendakwah soal moral, keadilan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Dosen saya di waktu kuliah S1, Endang Sih Prapti, dalam kelas Sejarah Pemikiran Ekonomi, selalu mengulang-ngulang bahwa ilmu ekonomi awalnya adalah sebuah ilmu yang berasal dari divine world, sebuah ilmu dari alam dari Tuhan dengan penuh nilai-nilai moralitasnya. Akhirnya, ilmu ini perlahan diturunkan menjadi ilmu di alam manusia yang membumi seperti yang kita kenal di masa modern ini. Tidak heran, ekonom-ekonom masa lalu, khususnya era pra Adam Smith, banyak yang seolah “merangkap” sebagai juru dakwah. Sebut saja, “ekonom” macam Thomas Aquinas dan Ibn Khaldun.

Artikel ini saya rasa akhirnya jadi pemisis sekali tentang masa depan seorang ekonom ya? Ha ha ha. Ok, tenang, sebenarnya masih banyak hal yang bisa terjadi. Misalnya, jika dahulu ekonom adalah pendakwah lalu berkembang cabang “spesialisasinya” menjadi ada yang filsuf, politisi, matematikawan, ahli statistik, maka bisa jadi ekonom di masa depan akan bertambah satu lagi spesialisasinya seperti programmer dan atau ahli ilmu komputer (yang nampaknya saat ini pun sudah banyak ekonom yang fasih dengan bahasa pemrograman dalam rangka menyelesaikan isu-isu ekonomi).

Tapi apapun itu, mengutip apa yang pernah  dikatakan Margaret Teacher, seorang Perdana Menteri legendaris dari Inggris, dalam sebuah wawancaranya: Economics are the method; the object is to change the heart and soul.

Entahlah. Mungkin Bersambung

  • Muhammad Daffa

    Yah min, lalu pekerjaan manusia lama2 tergantikan dan akan terkadi reduksi produktivitas yang cukup tinggi…..

    • Aulia Rachman Alfahmy

      Kemungkinan akan banyak pekerjaan baru juga di masa akan datang yang saat ini belum kita ketahui… untuk ekonom, mungkin akan banyak hal yang berubah

  • Olivia Kamal

    Takut ekonom musnah y ul?

    Rasanya ga bakal deh wlo ada IA itu cm helper… krn decision ttp di tangan orang, ilmu sosial sptnya lebih kompleks dari permainan catur…