Mental Block Investasi di Pasar Modal

0
469
Sumber: https://www.homeunion.com/

Seorang teman penasaran tentang investasi saham yang saya lakukan. Koq kayaknya keren, bisa main saham kaya di pilem-pilem. Padahal harusnya investasi di pasar modal adalah sesuatu yang biasa aja. Mirip dengan investasi di emas, ternak, atau perkebunan. Cuma bedanya investasi di pasar modal adalah paper asset. Aset yang tercatat di kertas.

Saya jadi sadar jika investor individu di negara ini masih kecil. Per Februari 2016 baru ada 582.052 rekening. Dibandingkan dengan 250 juta penduduk negara kita, Itu berarti masih 0,2%, dan jauh tertinggal dari negara tetangga macam Singapura (30%) dan Malaysia (35%).

Koq bisa kecil amat sih? Menurut saya, ada beberapa mental block (mindset yang keliru) tentang investasi di pasar modal yang menghantui masyarakat kita. Saya coba mendaftar beberapa diantaranya:

“Saham itu bentuknya kaya apa? Apa Beda Pasar Modal dengan Pasar Senen?”

Banyak dari kita yang belum tahu apa itu saham, dan apa itu pasar modal. Padahal sebenarnya saham itu sederhana: bagian kepemilikan dari perusahaan. Dan pasar modal adalah tempat dimana perusahaan yang butuh modal (emiten) bertemu dengan orang yang punya modal (investor).

Zaman dulu katanya saham itu bertentuk kertas, macam sertifikat gitu. Tapi sejak perkembangan teknologi, saham hanya tercatat di rekening bursa seorang investor dan dia tak perlu menyimpan berlembar-lembar saham fisik. Enak kan, ga ribet kalo kebanjiran hehehe.

Sebagai pemilik kita akan dapat bagi hasil berupa deviden (klo untung). Dan enaknya di pasar modal, kita bisa memperjual belikan kepemilikan saham kita. Jadi jika awalnya punya saham di perusahaan tambang terus ngerasa bosen dan pingin punya saham di perusahaan telekomunikasi, ya tinggal dijual aja ke orang lain. Transaksi inilah yang menyebabkan harga saham naik turun kaya ingus.

“Saham hanya untuk orang kaya! Aku mah apa atuh, Cuma serbuk gergaji di semesta ini”

Mindset yang sering menyerang kebanyakan dari kita: hanya orang kaya yang berhak berinvestasi. Nah sekarang pertanyaannya: “mereka berinvestasi karena kaya”, atau “mereka kaya karena berinvestasi”?

Padahal banyak banget saham yang harganya terjangkau. Contohnya MYOR (Mayora) yang per 7 Agustus dijual dengan harga 1.640 rupiah saja per lembar. Atau TLKM (Telkom) seharga 4.350. Jika suka otomotif bisa membeli ASII (Astra) di level 7.925 perak.

Nah bedanya untuk pembelian di pasar modal hitungannya lot bos. Zaman dulu 1 lot itu 500 lembar. Sekarang Cuma 100 lembar. Jadi 1 lot Astra Cuma 792.000 dan 1 lot Mayora hanya 164.000-an saja. Masih ngerasa kemahalan? Bisa cari yang dibawah harga 500 perak macam GIAA (Garuda) yang diperdagangkan di harga 470 rupiah per lembarnya. Beli gadget 5 juta aja bisa, masa beli saham 47 ribu ga mampu?

“Jangan invest saham, itu judi!”

Perlu diingat, harga saham di pasar bisa berubah-ubah dipengaruhi banyak faktor. Bisa laporan keuangan, proyeksi pertumbuhan ekonomi, krisis politik, sampai ulah spekulan. Karena sejatinya harga saham adalah proyeksi nilai dari sebuah perusahaan. Dan namanya juga valuasi, terus berubah sepanjang waktu.

Orang yang berpikir jika saham adalah perjudian seringkali lupa jika investasi mengandung risiko. Ketika kita berinvestasi pada ternak, kita berharap ternak itu bisa besar dan dijual dengan harga tinggi. Bagaimana jika ternak-nya ga gede2 karena kena penyakit?

Hampir sama dengan investasi di pasar modal. Kita berinvestasi di sebuah perusahaan dan berharap perusahaan itu menghasilkan keuntungan. Tapi jika ternyata rugi? Ya siap-siap harga saham kita turun.

“Saya bisa cepat kaya dan juga bisa cepat miskin”

Aduh bos, jangan menelan mentah-mentah informasi dari pilem Hollywood kaya Wallstreet atau Wolf of Wallstreet. Karena investasi itu ga seperti melihara tuyul instant. Bisa konsisten untung 20% setiap tahun sudah termasuk luar biasa.

Investor terkenal dunia macam Warren Buffet atau Merril Lynch dikenal bukan karena membuat klien-nya bisa beli kapal pesiar dalam satu tahun seperti iklan MLM. Tapi keuntungan yang stabil selama 10-20 tahun. Untuk membatasi kerugian juga biasanya ada aturan cut-loss. Anda harus menjual saham itu jika nilainya terus turun. Besaran cut-loss tergantung kepada Anda, sang investor.

“Waduh saya kan sibuk, mana sempet belajar ilmu investasi yang njelimet”

Saya selalu ingat pesan Benjamin Graham guru Warren Buffet, untuk berinvestasi hanya dibutuhkan ilmu aritmatika sederhana. Anda ga perlu katam kalkulus, bikin model valuasi njelimet, atau melototin grafik sambil bergadang 7 hari 7 malam.

Karena sekarang semua informasi tersedia. Bahkan broker Anda sudah menghitungkan rasio-rasio keuangannya, memberikan historical data harganya, sampai memberikan rekomendasi pilihan sahamnya. Yang perlu kita lakukan sebagai investor hanyalah menggunakan akal sehat dan mengambil keputusan berdasarkan dua skill wajib: analisa laporan keuangan dan sedikit technical analysis.

Oke saya ingin berinvestasi di pasar modal. Harus Mulai Darimana?

Cukup datang ke perusahaan sekuritas resmi yang terdaftar di bursa. Mintalah dibuatkan dummy account dan cobalah berinvestasi secara virtual. Biasakan diri melihat istilah keuangan, daftar kode saham, pergerakan pasar, dan nikmati semua prosesnya.

Yang pasti kita harus belajar mindset seorang investor: tidak konsumtif, bersabar, dan melihat nilai di masa depan. Ga usah ikut-ikutan jika teman ganti gadget atau tetangga ganti baju (nanti dikira ngintip). Karena lebih baik jadi orang miskin secara penampilan tapi kaya secara laporan keuangan, daripada terlihat kaya secara penampilan tapi sebenarnya miskin secara laporan keuangan.

Setelah Anda yakin dan terbiasa, silahkan membuka rekening di bursa. Ga usah banyak-banyak, yang pasti make sure uang itu adalah disposable income (tabungan sisa) dan bukan hasil korupsi atau ngepet jadi babi.

Selamat berinvestasi.