Penerapan Ilmu Ekonomi dalam Kehidupan Kontrakan Mahasiswa

Tribute for Kontrakan Jong Wiratama 3 (#JW3NovusOrdo)

2
880
Sumber: https://www.jw3.org.uk/

Tulisan ini saya dedikasikan kepada para semua penghuni Kontrakan Jong Wiratama 3(JW3). Kontrakan yang berlokasi di Pandega Wiratama No. 3, Sleman, yang dulu dihuni mahasiswa-mahasiswa Jogja, salah satunya saya. Sejak tahun 2008 kontrakan ini “berdiri” ia telah memberikan banyak pengetahuan dan pencerahan bagi saya.

Artikel Blog Ekonom Gila ini pun dahulu juga saya buat pertama kali di dalam sebuah kamar di Kontrakan tersebut hampir 5 tahun yang lalu (Kersen-Nomics). Jadi tidak ada salahnya, sekarang saya menuliskan sesuatu buat kontrakan ini, yang pada tahun ini, 2016, setelah 8 tahun, para penerus penghuninya tidak lagi melanjutkan kontrak dengan pemilik rumahnya. Akhirnya kontrakan ini “bubar” (dalam arti yang sempit).

Kembali ke kontrakan ini, sejatinya kontrakan inilah mungkin pertama kalinya saya dan beberapa teman, sadar atau tidak sadar, menerapkan beberapa prinsip Ilmu Ekonomi dalam contoh kehidupan sehari-hari. Ya! Jadi kalau ada yang bilang, ilmu di kuliahan nggak terpakai, oke, coba saya berikan beberapa contoh penerapan anehnya ini.

Jadwal Piket Cuci Piring

Siapa yang sangka bahwa perdebatan diadakan piket cuci piring atau tidak bagi para penghuni JW3 pada sebuah malam rapat kontrakan harus berakhir dengan perdebatan tentang pengertian-pengertian barang publik. Salah satu kisahnya adalah ketika salah satu penghuni berkata, “Mengapa saya haru mencuci piring, gelas dan sendok yang dipakai orang lain? Lebih baik saya mencuci apa yang saya pakai saja?”. Sebuah logika yang benar. Mengapa harus ada jadwal piket cuci piring jika kita bisa membersihkan masing-masing.

Saat itu saya berargumen, “Ya memang piring, gelas dan sendok itu adalah barang-barang ‘privat’ yang kita bisa atasi masalahnya jika setiap orang tidak pernah lupa untuk mencuci barangnya sendiri-sendiri. Namun demikan, pada praktiknya terkadang atau bahkan seringkali penghuni kontrakan kita sedang lupa, terburu-buru, atau simply malas untuk mencuci”.

Ingat bahwa keindahan dan kerapian dapur, ruang menonton televisi, dan lainnya adalah sesuatu yang bersifat publik di kontrakan itu, maka kita harus menggunakan kebijakan publik untuk mengatasi permasalahan ini, yaitu: Kebijakan Jadwal Piket Kontrakan.

Akhirnya rapat soal kebersihan piket cuci piring ini berakhir dengan pembagian jadwal per minggu bagi setiap orang untuk mencuci piring dengan catatan: membersikan piring dan gelas sendiri sangat dianjurkan.

Apa relevansinya dalam dunia nyata? Coba lihat bagaimana para petugas kebersihan membersihkan taman dan jalanan. Idealnya, mereka hanya digaji untuk mengumpulkan sampah-sampah yang ada pada tempatnya, mengangkat, menyatukan ke tempat penampungan sampah. Harusnya, pemerintah menggaji mereka untuk ini, bukan yang lain. Tapi pada praktiknya, ada dari mereka yang juga memiliki pekerjaan menyapu jalanan untuk membersihkan sampah berserak, memungut sampah yang tidak pada tempatnya dan lain-lain. Karena kebersihan dan keindahan adalah hal yang bersifat publik maka kita harus menggunakan kebijakan publik dan kita tidak bisa mengandalkan individu untuk berprilaku dengan ideal. (Seandainya kita semua bisa disiplin membuang sampah pada tempatnya, maka banyak biaya yang bisa kita hemat, fuuuh).

Hikmah: Ketika tinggal bersama-sama dengan teman, definisikanlah, mana yang ruang publik mana yang ruang privat. Biarkan ruang privat menjadi urusan masing-masing, dan jadikan ruang publik urusan bersama. Benefit lainnya, kalian akan jadi lebih akrab karena sering ngobrol 😛

Monitoring, Disinsentif dan Galak!

Saat itu saya sedang menjadi Bendahara untuk kontrakan ini, dari sisi saya untuk kontrakan, misinya adalah bagaimana keuangan dari kontrakan ini bisa aman. Cerita soal Piket Cuci Piring berlanjut, tentang bagaimana kita melakuan monitoring bagi masing-masing anggota. Akhirnya diputuskanlah menerapkan sistem disinsentif (bahkan mau diterapkan insentif). Aturan mainnya adalah bagi siapa saja yang tidak melaksanakan piket, maka akan didenda sekian ribu rupiah. Tentu saja hal ini banyak memunculkan kontra dan memakan banyak korban. Namun, yang dilakukan sebenarnya bukan semata mencari penghasilan tambahan bagi kontrakan, namun bagaimana menjamin sistem dan aturan main yang dibangun dapat berjalan.

Hikmah: Kalau jadi Bendahara atau orang yang megang duit, jadilah galak! Karena galak menjamin sistem dan aturan main yang dibangun dapat berjalan dengan semestinya. heheheheh

Lihat Kebutuhan Mereka dan Kreatiflah!

Menjadi galak bukan berarti kalian harus menjadi orang yang jahat. Cerita soal diinsentif tadi misalnya, uang yang terkumpul bisa digunakan untuk membeli gorengan dan kue ketika kalian kerja bakti membersihkan rumah pada akhir pekan. Ini akan membuat mereka gembira. Sehingga bersih-bersih rumah menjadi pekerjaan yang menyenangkan. Kalian bisa juga bekerja sama dengan tukang loak kertas bekas untuk menampung sampah-sampah dokumen dari para penghuni. Menjual barang-barang ini berarti membuat penghasilan tambahan buat kontrakan sekaligus memudahkan pekerjaan teman-teman mu.

Pada suatu saat saya sempat berinisiatif untuk menjalankan sesuatu yang kami kenal dengan Badan Usaha Milik Kontrakan  (BUMK). Sebuah kantin kejujuran yang modalnya dikumpulkan dari modal beberapa penghuni dan uang kas kontrakan. Lali diperlakukan bagi hasil. Ya! Dengan penghuni kontrakan yang cukup, sekitar 12-13 orang ini, dan mereka lebih-lebih para penikmat Sepak Bola, bisnis BUMK berjalan cukup lancar dengan menjual kacang, snack (Chiky, Taro, Cheetos, dsb), biskuit dan yang paling laris: COKI-COKI!!! Ketika week-end, khususnya bagi mereka yang jomblo, menonton bola sambil ngemut COKI-COKI adalah kenikamatan yang luar biasa.

Hasil keuntungan dari bisnis ini, waktu itu oleh Ketua Kontrakan diputuskan untuk digunakan membeli Rak Sepatu, sesuatu yang saat itu kita masih kekurangan. Rak sepatu membuat para penghuni gembira, koridor menjadi lebih rapi dari sepatu-sepatu yang berceceran, dan lebih banyak lagi yang gembira karena keindahan ruang publik meningkat.

Hikmah: Lihat kebutuhan mereka dan kreatiflah dalam mengambil kebijakan sebuah program.

Penuhi Kebutuhan Dasar Mereka

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, mengapa para penghuni kontrakan JW3 ini mau saja direpotkan dengan berebagai macam aturan dan logika yang aneh-aneh padahal mereka sejatinya tidak lain dan tidak bukan adalah konsumen, atau setidaknya, bagi sebagian penghuni rumahan normal, mereka tidak membutuhkan sistem semacam ini untuk sebuah rumah yang hanya dijadikan tempat tinggal?

Entahlah, saya tidak tahu faktor utamanya. Namun, jika saja saya boleh memberikan jawaban, maka hal yang membuat mereka tetap nyaman adalah bagaimana kontrakan ini sedemikian rupa sehingga mampu memberikan kebutuhan-kebutuhan dasar dalam hidup mereka: internet, tv kabel, playstation dan koran harian. Catat baik-baik item-item ini kalau mau buat kontrakan kalian nyaman! Hehehehehe.

Selain itu, kontrakan ini juga memberikan beberapa kesempatan untuk terus bertukar pikiran, berdiskusi, berdialektika, bahkan dalam beberapa kesempatan kita berpetualang di tempat-tempat random yang terkadang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya. Intinya, adalah bagaimana rumah itu tidak hanya dijadikan sebagai tempat tinggal, tapi juga menjadi tempat belajar bersama. Ini adalah hal yang paling berharga.

So, intinya, belajar Ilmu Ekonomi adalah belajar tentang banyak logika kehidupan. Bagaimana menciptakan interaksi sosial yang optimal, bagaimana transaksi dan pertukaran membuat semua orang bahagia, bagaimana mengalokasikan uang kepada hal-hal yang lebih prioritas dan bagaimana menciptakan sebuah aturan main yang mampu menjamin keberlangsungsan sebuah sistem dan kesepakatan. Hal itu tidak perlu jauh-jauh kamu terapkan di sesuatu yang nampaknya besar. Tepat di lingkungan mu, kamu bisa terapkan itu!

Buat Para Penghuni JW3, #JW3NovusOrdo

(Video Syarif Hidayatullah, sebuah film tentang JW3, yang sejatinya tidak pernah dibuat :P)

#JW3NovusOrdo

 

  • Olivia Kamal

    Mmg ga hrs ribet sih imple nya… dan terutama sharing lo ini menghibur!