Apakah Manusia Lebih Baik Bertransaksi dengan Cashless?

0
736
Olimpicshop

Website The Economist, pernah menuliskan beberapa sebab mengapa sebagian ekonom menyukai sebuah tatanan perekonomian yang cashless.  Mengutip apa yang disampaikan Kenneth Rogroff, dalam The Curse of Cash, bahwa sistem transaksi cashless dapat mengurangi penghindaran pajak oleh masyarakat dan juga sangat baik bagi kebijakan moneter pemerintah. Di sisi lain kegiatan perekonomian akan tercatat lebih baik sehingga underground economy akan sedikit demi sedikit terhapuskan. Tentu saja, sistem keuangan cashless ini memiliki beberapa keungulan yang lain seperti keamanan yang lebih baik, biaya yang lebih rendah, kenyamanan, dan dalam aspek kesehatan, transaksi cashless lebih higienis baik bagi penjual dan konsumen.

Sementara itu, ada beberapa pihak, yang mereka biasanya penyuka teori-teori konspirasi, melihat sistem keuangan cashless adalah salah satu bentuk pengekangan dari penguasa karena segala hal akan selalu terikat dan terkontrol oleh pemerintah. Bagi mereka, dengan adanya sistem cashless ini maka manusia akan semakin terarahkan pada sebuah tatanan di mana uang adalah segala-galanya. Benarkah demikian?

Bagi saya, seorang pecinta ilmu ekonomi dan sedikit sejarah, melihat bahwa pergeseran ini merupakan salah satu bentuk evolusi atau perjalanan panjang dari cara manusia melakukan transaksi. Biasanya, tujuannya adalah agar transaksi dapat tercapai dengan lebih efisien, mudah dan terjaga dari berbagai macam bentuk penipuan dan kejahatan.

Nah, mungkin ada baiknya saya membahas sekilas bagaimana uang itu berevolusi sehingga pada akhir tulisan ini para pembaca Ekonom Gila yang budiman bisa sadar mengapa beralih menuju transaksi cashless adalah hal yang menguntukan (lagi wajar). Karenanya, sangat penting bagi kita untuk terus mendukung Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang belakangan disuarakan oleh Bank Indonesia (meskipun saya sedikit terganggu dengan istilahnya yang “Non-Tunai” karena seolah-olah jadinya kredit alias utang, saya lebih suka dengan istilah “nir-tunai”). Selanjutnya saya akan juga membahas dan memberikan masukan tentang bagaimana sistem transaksi cashless ini agar bisa berjalan dengan sukses, baik bagi pemerintah maupun masyarakat.

Sekilas tentang Evolusi Uang: Barter

Uang pada dasarnya adalah salah satu bentuk terkini, setidaknya sampai hari ini, dari hasil kesepakatan manusia dalam rangka memperlancar kegiatan bertransaksi. Jika kalian pernah sedikit belajar ilmu ekonomi di sekolah menegah atas, pastinya pernah mendengar tentang istilah barter. Ketika tidak ada uang atau alat tukar, maka, manusia bertransaksi dengan barter. Ini sulit, karena dengan barter mensyaratkan sebuah kondisi yang dikenal dengan double coincide of want/need terjadi. Yaitu, situasi di mana A mempunyai X dan membutuhkan Z, dan B mempunyai Z dan membutuhkan X. Oke, mulai pusing kan?

  1. Pak Adi punya sebuah apel dan Pak Budi punya belimbing. Apakah barter bisa terjadi? Tidak.
  2. Pak Adi punya apel dan butuh belimbing; Pak Budi punya belimbing. Apakah barter bisa terjadi? Tidak
  3. Pak Adi punya apel; Pak Budi punya belimbing dan butuh apel. Apakah barter bisa terjadi? Tidak.
  4. Pak Adi punya apel dan butuh belimbing; Pak Budi punya belimbing dan butuh apel. Apakah barter bisa terjadi? Ya, selama mereka berdua sepakat tentang seberapa banyak apel bisa ditukarkan dengan belimbing (demikian sebaliknya).

Ya, itu kenapa harus double coincidence, bukan hanya sama-sama memiliki barang, tapi keduanya sama membutuhkan barang yang dimiliki lawan transaksinya. Maka para pembaca yang budiman bisa membayangkan betapa sulitnya transaksi untuk dapat dilakukan dengan sistem barter. Pak Adi mungkin harus mencari Pak Budi (yang punya belimbing dan butuh apel) ke pelosok negeri untuk dapat memenuhi apa yang ia butuhkan (belimbing). Baiklah, sejatinya masih panjang perjalanan manusia hingga mencapai ke bentuk uang yang kita kenal hingga hari ini. Dari cerita di atas, sebenarnya kasus transaksi bisa dibuat semakin rumit dengan menggunakan tiga pihak yang satu sama lain saling memiliki sesuatu yang pihak lain butuhkan.

barter
Bentuk Transaksi Barter Tiga Pihak

Oke, bisakah para pembaca yang budiman menyelesaikan kasus di atas?

Mari kita mulai saja dari pendatang baru Pak Dimas. Pak Dimas datang ke Pak Adi untuk menukarkan Durian yang dia punya dengan Apel yang dimiliki Pak Adi. Sejurus kemudian Pak Dimas datang ke Pak Budi, untuk menukarkan Apel yang dia sekarang miliki ke Pak Budi, akhirnya Pak Dimas bisa mendapatkan buah belimbing yang dia inginkan (tentu saja Pak Budi mendapatkan apel yang dia inginkan).

Dari kasus di atas, kita diantarkan pada bentuk yang lebih kompleks lagi dari barter, sehingga bisa terbanyang bahwa sangat kompleks dan sulitnya transaksi dengan mekanisme barter dapat terwujud dan pada akhirnya manusia berakhir pada sebuah keadaan tidak dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan yang ia miliki. Ingat, bahwa kebutuhan manusia sangat kompleks, bahkan seandainya seorang dokter pun sedang sakit, dia masih tetap butuh dokter yang lain untuk menyembuhkannya. Pak Adi, walaupun petani apel, tentu saja tidak bisa hidup hanya dengan apel bukan?

Sekilas tentang Evolusi Uang: Munculnya Komoditas sebagai Alat Tukar

Kompleksitas dari kasus tiga orang di atas walaupun terlihat membuat barter semakin rumit, namun tanpa disadari memunculkan sebuah hikmah! Dari sana kita bisa mengetahui bahwa dimungkinkan saja ada sebuah komoditas yang bisa jadi dapat diterima bersama sehingga memudahkan transaksi. Maksudnya apas sih? Kok bisa?

Dari kasus sebelumnya kita tahu bahwa Pak Dimas mengambil Apel untuk ditukarkan dengan Durian yang dimiliki dan menjadikan Apel itu sebagai alat transaksi ke Pak Budi. Nah, bagaimana seandainya jika Apel adalah sebuah komoditas yang secara masif dibutuhkan oleh banyak orang? Lihat gambar berikut:

barter-kompleks

Dengan apel yang dia dapatkan dari Pak Adi, sejatinya Pak Dimas memiliki sebuah barang yang “sakti mandraguna” yang sangking banyaknya dibutuhkan oleh orang banyak, Pak Dimas bisa menukarkan dengan barang lain yang dia butuhkan. Ya, akhirnya seolah-olah Apel ini adalah “uang” bukan? Atau bisa kita bilang sebuah barang yang dapat berfungsi sebagai alat transaksi.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa barang itu sangat dibutuhkan banyak orang? Atau bahasa lainnya, mengapa barang itu mau diterima oleh banyak orang? Jawabannya ternyata bukan karena orang-orang benar-benar sedang membutukan barang itu untuk langsung dikonsumsi, akan tetapi karena barang itu adalah barang yang: awet/tahan lama, mudah dibawa-bawa, mudah dibagi-bagi dalam ukuran-ukuran yang dinginkan sehingga mudah untuk ditukarkan dengan barang lain sesuai kebutuhan. Sejarah peradaban manusia pada akhirnya menunjukkan bahwa barang itu bukan apel (ya, karena apel mudah busuk dan hancur, lalu tidak mudah dipisah-pisahkan), akan tetapi barang itu adalah emas, perak, tembaga, kerang, bahkan sepuntung rokok.  Bahkan hingga kini, banyak bentuk unik dari barang-barang yang dijadikan manusia sebagai alat transaksi.

Manusia secara alamiah mengarah pada barang-barang yang secara natural memiliki sifat-sifat yang diterima banyak orang seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Maka dari sinilah manusia mulai menemukan bahwa emas adalah salah satu alat transaksi terbaik yang ada. Kita dapat menyaksikan bahwa emas selama berabad-abad menjadi alat transaksi yang dipakai peradaban-peradaban besar di dunia. Alat transaksi ini pada akhirnya membuat kuantitas transaksi yang terjadi di antara manusia meningkat tajam karena sudah tidak dibutuhkan lagi kondisi double coincide of want/need. Kegiatan perdagangan meningkat bukan lagi pada level antar individu, namun juga komunitas, suku-suku, bangsa dan kerajaan. Kisah ini sangat renyah ditulis oleh seorang Austrian Economist, Murray N Northbard dalam bukunya yang berjudul What Has Government Done to Our Money?

Akhirnya Uang Kertas

Selangkah lagi manusia menuju pada uang kertas. Setelah emas (dan beberapa varian barang lainnya) telah dipilih umat manusia sebagai alat transaksi, maka ada satu waktu di mana emas ternyata sudah tidak cukup efisien, nyaman dan aman untuk dibawa dan disimpan ke mana-mana. Akhirnya, munculah bisnis penyimpanan emas. Si Tukang Penyimpan emas ini, ketika kliennya menitipkan emas di gudangnya mengeluarkan sebuah Surat Bukti Menyimpan Emas kepada si klien yang menunjukkan bahwa si klien ini benar-benar memiliki simpanan emas di gudangnya, anggaplah 100 kg emas. Suatu waktu si klien ingin memberi 1000 ha tanah kepada seorang tuan tanah seharga 100 kg emas. Alih-alih mengambil emasnya digudang, si klien menyerahkan saja Surat Bukti Menyimpan Emas ini kepada si tuan tanah. Akhirnya, embrio uang kertas muncul. Hal yang menarik, Rober A. Mundell, menuliskan dalam paper-nya yang berujudul The Birth of Coinage, praktik semacam ini ternyata sudah terjadi sejak jaman kerajaan kuno di China, India, Babylonia, dan Mesir.

Nah, kisah tentang evolusi uang ini sejatinya merupakan perjalanan panjang dari apa yang kita kenal dengan commodity money dan representative money.  Emas adalah commodity money dan uang kertas yang memiliki basis emas adalah representative money. Kita lihat bahwa sejatinya manusia terus mencari cara bagaimana alat transaksi atau uang ini dapat digunakan secara lebih mudah dan nyaman tanpa mengurangi nilai guna dari uang itu sendiri.

Selanjutnya, kita akan mengenal apa yang disebut dengan fiat money, bentuk uang yang mungkin adalah uang yang selama ini lebih sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Sedikit berbeda dengan commodity money dan representative money, fiat money adalah sebuah alat transaksasi yang nilai intiristiknya tidak terkait dengan nilai barang apapun. Ya, seperti uang yang muncul dari udara. Namun demikian, fiat money sangat tergantung dengan institusi atau lembaga apa yang mengeluarkan. Semakin terpercaya dan memiliki legalitas, maka fiat money tersebut dapat diterima luas oleh masyarakat. Lembaga yang dimaksud, selama ini pada praktinya, adalah Negara atau Pemerintah. Sejarah mencatat, fiat money pertama dikeluarkan oleh Kerajaan China ketika Dinasti Yuan berkuasa sekitar Tahun 1000 Masehi.

Inovasi adalah Kuncinya

Hal yang menarik ketika fiat money muncul adalah realitas bahwa sejatinya alat tukar bukan hanya dapat diambil nilainya dari barang-barang yang berwujud/konkrit akan tetapi dapat pula diciptakan dari sebuah nilai lain: kepercayaan. Ya, fiat money sangat tergantung terhadap trust. Mari kita bayangkan contoh ekstrim: Apakah kamu masih mau memegang uang dalam bentuk Rupiah jika tahu kalau bulan depan Pemerintah Indonesia akan bubar? Sekejap itu juga Rupiah tidak akan memiliki arti dan nilainya.

Oke jika ini terlalu abstrak, mari kita bayangkan bahwa kamu adalah seorang yang memiliki banyak talenta: memijat, membersihkan rumah, servis AC, memasak dan lain-lain. Dengan kredibilitas dan skill mu, sejatinya kamu bisa menciptakan uang mu sendiri: voucher 1 jam pijatan, vocher 1 jam bersih-bersih rumah, dll. Jika suatu saat kamu ingin sesuatu dari orang di sekitarmu dan jika memang skill mu memang benar-benar memilki value dan dibutuhkan orang lain, maka dengan voucher yang kamu buat sendiri itulah kamu bisa memperlakukannya seperti uang. Jika kalian penggemar Sitcom Big Bang Theory, ada satu adegannya, Steward, salah satu tokoh dalam sitcom ini memeraktikan penciptaan uang ini:

Mengapa akhirnya muncul fiat money (uang fiat)? Menurut penulis, hal ini karena dalam sebuah wilayah telah muncul sebuah kelembagaan penguasa atau pengatur a.k.a pemerintah yang mapan. Peradaban manusia di wilayah itu telah sedemikian rupa sehingga memiliki inovasi sistem kelembagaan yang rapi dan maju. Adanya kondisi ini membuat inovasi-inovasi di bidang lain juga hadir, yaitu tidak lain dan tidak bukan adalah bentuk uang itu sendiri. Lalu, dengan hadirnya inovasi-inovasi inilah akhirnya cara hidup dan tabiat manusia berubah. Termasuk, tentu saja yang belakangan kita hadapi, munculnya sebuah pemikiran dan gagasan tentang adanya Less Cash Society (LCS).

Memasuki Fase Baru Evolusi Mata Uang

Ya, untuk masuk ke topik utama tentang sebuah sistem perekonomian yang di dalamnya tumbuh sebuah Less Cash Society (LCS), penulis memang sengaja berlama-lama untuk membahas aspek sejarahnya. Mengapa? Karena untuk memberikan wawasan kepada para pembaca yang budiman bahwa jargon-jargon soal Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) atau Smart Money Wave, bukan hanya didasarkan pada aspek bisnis atau hanya berorientasi pada retorika dangkal semata.

Manusia saat ini hidup dalam era yang benar-benar berbeda. World Economic Forum (WEF) menyebutnya dengan istilah The Fourth Industrial Revolution (Revolusi Industri ke-4) yang ditandai dengan semakin terintegrasinya sendi-sendi kehidupan manusia sebagai akibat kemajuan inovasi teknologi informasi dalam beberapa tahun terakhir. Ya, munculnya sebuah inovasi, seperti halnya dalam sejarah peradaban manusia terdahulu, pastinya akan memunculkan tata peradaban manusia yang baru. Tentu saja, kemajuan ini juga akan sangat berdampak pada sistem mata uang, cara pembayaran, dan perilaku bertransaksi manusia.

Oleh karena itu, secara alamiah pergeseran cara transaksi manusia ke arah cashless serta munculnya gagasan Less Cash Society (LCS) bukan hanya perlu disadarakan dan digencarkan, namun lebih dari itu, ia akan terus berjalan dan berkembang secara alamiah dengan sendirinya, maka mau tidak mau kita harus siap. Perkembangan inovasi saat ini dan fakta sejarah terdahulu mengafirmasi argumentasi ini. Inovasi yang ada telah menyediakan teknologi yang membuat cara bertransaksi kita semua akan jauh lebih mudah. Selain itu, pemantauan pemerintah serta kebijakan-kebijakan dalam bidang perekonomian (khususnya di ranah makroekonomi) akan lebih kuat. Pertanyaan selanjutnya, buat kita, orang Indonesia, apa yang harus diperbuat?

Hal-Hal yang Perlu Ditingkatkan oleh Seluruh Elemen di Indonesia

Ada sebuah artikel menarik yang dipublikasikan oleh Harvard Business Review tentang tema ini yang disusun oleh Bhaskar Chakravorti, Ravi Shankar Chaturvedi dan Benjamin Mazzotta. Publikasi itu berjudul The Countries That Would Profit Most from a Cashless World. Artikel tersebut mencoba menganalisis negara mana saja yang paling diuntungkan jika sistem pembayaran pada perekonomiannya telah menerapkan sistem cashless. Tulisan tersebut menganalisa dengan menyusun cost of cash score yang merupakan perpaduan antara beberapa variabel: biaya pengelolaan ATM, cost of cash, dan tax gap (potensi pendapatan pajak pemerintah jika menerapkan sistem cashless). Dari 157 negara yang diamati, Indonesia termasuk negara yang masuk dalam kategori medium dalam hal cost of cash score. Hal ini berarti bahwa, jika Indonesia mengubah sistem pembayaran ke cashless, maka keuntungan yang diperoleh relatif lebih banyak jika dibandingkan dengan beberapa negara lain.

the-cost-of-getting-cash

Artikel ini juga mengaitkan cost of cash dengan kesiapan sistem digital yang ada di negara-negara yang diamati dengan menggunakan Digital Evolution Index. Hasilnya Indonesia masih berada di bawah rata-rata. Sehingga disimpulkan dalam artikel tersebut bahwa, jika Indonesia menginginkan benefit yang optimal dari penerapan sistem cashless maka salah satu pra-syarat yang harus dipenuhi adalah meningkatkan kesiapan penggunaan digital sehingga menjadi lebih “digital inclusive”.

digital-readiness

Dari hasil analisis ini dapat kita garisbawahi bahwa Pemerintah masih harus terus mendorong tumbuhnya ekosistem yang baik bagi suksesnya penerapan sistem pembayaran berbasis digital atau cashless ini. Hal yang paling mendasar yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Penyediaan infrastruktur yang memadai bagi pengembangan industri digital di Indonesia;
  2. Penetapan dan penerapan peraturan-peraturan yang bersahabat bagi perkembangan inovasi digital khususnya di bidang keuangan dan pembayaran (fintech);
  3. Berinovasi dalam pelaksanaan kebijakan-kebijakan ekonomi dengan mengadposi teknologi pembayaran terkini. Misalnya integrasi sistem pembayaran cashless dengan kebijakan-kebijakan sosial-ekonomi pemerintah: subsidi pangan, bantuan tunai, jaminan kesehatan, pembayaran pajak. Salah satu contoh adalah dengan penetapan dan penerapan wajibnya pengunaan uang elektronik untuk pencairan subsidi dan pemanfaatan fasilitas-fasiltas pemerintah lainnya;
  4. Melibatkan secara inklusif dan seluas mungkin peran-peran pelaku swasta, seperti perbankan swasta dan nasional, perusahaan teknologi, start-up, dalam meningkatan nilai guna teknologi bagi pemanfatannya sistem pembayaran dan transaksi di masyarakat.

Di sisi lain, pihak swasta dan masyarakat juga harus mendukung sesuai dengan perannya masing-masing. Misalnya perusahaan strat-up dan teknologi yang memfokuskan pada aspek kenyamanan dan keamanan produk-produk mereka terhadapan konsumen. Masyarakat pun juga harus turut berperan aktif, tidak hanya sebagai pengguna namun juga terus menerus memberikan masukan atau feedback yang positif bagi perbaikan kebijakan ataupun pelayanan yang diberikan oleh Pemerintah dan pelaku usaha terkait.

Terakhir, untuk menjawab pertanyaan pada judul blog ini, “Apakah Manusia Lebih Baik Bertransaksi dengan Cashless”, jawaban dari saya adalah: iya! Selama seluruh elemen dari peradaban manusia benar-benar dapat menyadari arti penting dan urgensi dari sistem cashless itu serta turut aktif dalam mendorong perubahan tersebut.

Referensi:

  1. Costs and benefits to phasing out paper currency, By Kenneth Rogoff, Harvard University, (http://scholar.harvard.edu/files/rogoff/files/c13431.pdf)
  2. http://www.economist.com/blogs/economist-explains/2016/08/economist-explains-11
  3. http://www.economist.com/node/613491
  4. http://www.economist.com/blogs/economist-explains/2014/09/economist-explains-14
  5. http://finalwakeupcall.info/en/2015/05/13/cashless-society-slavery/
  6. https://hbr.org/2016/05/the-countries-that-would-profit-most-from-a-cashless-world
  7. https://hbr.org/2015/02/where-the-digital-economy-is-moving-the-fastest
  8. Measuring progress toward a cashless society, Exclusive insights from MasterCard Advisors, (http://www.mastercardadvisors.com/_assets/pdf/MasterCardAdvisors-CashlessSociety.pdf)
  9. https://mises.org/library/what-has-government-done-our-money
  10. Robert A. Mundell, The Birth of Coinage, Discussion Paper #:0102-08, Department of Economics, Columbia University, February 2002.
  11. https://www.weforum.org/agenda/2016/01/the-fourth-industrial-revolution-what-it-means-and-how-to-respond/