Coworking Space: Kolaborasi Ide, Gagasan dan Kreatifitas Manusia

0
507
Sumber: https://evhive.co

Awalannya..

Seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, perilaku dan tabiat manusia selalu akan berubah. Hampir segala aspek kehidupan manusia, khususnya dalam satu dekade terakhir mengalami perubahan yang benar-benar drastis. Tentu saja banyak hal yang berubah bagi manusia dari cara mereka bekerja, sebut saja seperti telah digantikannya mesin ketik menjadi komputer, semakin tergantikannya mesin fax dengan email, dan banyak hal lainnya.

Salah satu perubahan kebiasaan manusia dalam hal bekerja yang belakangan ini muncul adalah dengan hadirnya bisnis coworking space. Perkembangannya bisnis ini tidak terlepas dengan semakin maraknya kehadiran perusahan-perusahaan start-up di Indonesia. Mengapa ini bisa terjadi? Lalu apa untungnya buat para entrepreneur di Indonesia? Ok, Sebelum membahas lebih jauh apa kelebihan-kelebihan coworking space, kita ada baiknya tahu terlebih dahulu apa sih coworking space itu?

Apa Itu Coworking Space?

Salah satu pelaku bisnis coworking space di Indonesia yang sudah cukup terkemuka, Ev Hive Coworking Space, dalam blognya menjelaskan bahwa coworking space  adalah sebuah tempat dimana para individu – individu yang memiliki latar belakang pekerjaan ataupun bisnis bekerja dalam sebuah tempat. Asal dari definisi coworking space itu sendiri adalah berasal dari kata ‘coworking‘ yang bisa diartikan kerja sama atau berkolaborasi[1]. Nah, dari pengertian ini, tentunya kita jadi sedikit lebih mengenal apa itu coworking space. Meskipun pengertian itu juga terlihat masih samar-samar dalam menjelaskan apa itu coworking space. Beberapa pertanyaan akan muncul. Bukannya kantor konvensial juga seperti itu? Ada orang banyak, ngumpul di satu tempat, dan kerja bareng-bareng. Lagi pula mereka kan juga melakukan kolaborasi? Lalu apa bedanya?

Baiklah, pertama bagi kalian yang pernah bekerja di korporat pasti akan bertanya dalam hati sambil memicingkan mata, “Memangnya saya nggak kekinian ya? Memangnya saya nggak berjiwa muda?”. Kedua, bagi kalian para freelancer atau tenaga kerja lepas seperti konsultan pasti juga akan bertanya-tanya, “Lah, kalau cuma begini mah saya juga bisa kerja di kafe, perusahaan yang meng-hire saya juga meng-cover makanan yang saya beli di kafe? Apa untungnya coworking space?”. Ketiga, bagi kalian yang masih mahasiswa full time atau yang sudah nyambi proyek-proyek pasti juga heran dan sama bertanya, “Bukannya sudah ada warnet ya? Saya dari kerjain tugas sampai kerjain kerja part-time juga bisa di warnet? Kenapa harus ke coworking space?”

Mudahnya, pasti banyak orang akan banyak menyangka bahwa analogi coworking space vs kantor konvensional itu ibarat seperti rumah vs rumah kos-kos-an. Sama-sama rumah, sama-sama dihuni manusia (bukan hantu atau makhluk sebangsanya tentunya) dan sama-sama dipakai sebagai tempat tinggal. Bedanya, ya… kalau rumah konvensional lebih komunal dan permanen sedangkan rumah kos-kosan lebih individualis dan fleksibel. Loh, lalu kalau seandainya coworking space itu seperti rumah kos-kosan yang individualis, kenapa namanya ‘coworking’ yang kononnya katanya tempat kita berkolaborasi?

Coworking Space dalam Perspketif Teori Ekonomi: Kolaborasi Ide dan Gagasan

Teori tentang berkumpulnya perusahaan pada satu tempat, atau biasa dikenal dengan istilah clustering sejatinya bukanlah hal yang baru dan sudah ada sejak satu abad silam. Marshall (1890), dan beberapa ekonom lainya seperti Weber (1929) dan Hoover (1937, 1948) menyebutkan istilah external economic of scale. Di mana skala ekonomi perusahaan dapat diperoleh di luar kegiatan perusahaan itu sendiri. Keuntungan dan peningkatkan produktiftas lebih besar bagi perusahaan dalam sebuah cluster, muncul karena pada sebuah kluster berkumpul input tenaga kerja terampil, tersedianya input jasa yang khusus, dan adanya spillover teknologi. Setiap pelaku usaha, disamping membangun rivalitas, secara natural mendukung perkembangan usaha masing-masing.

Teori Kluster terus berkembang. Sejak tahun 1990-an, para ekonom menyebutkan bahwa kapitalisme di dekade tersebut memasuki sebuah era baru di mana pengetahuan adalah sumber daya yang paling penting dan pembelajaran adalah proses yang paling penting (McKinnon et al. 2002). Dalam perkembangan teori kluster terbaru ini, keunggulan perusahaan kluster bukan lagi didasarkan pada keterikatan pada aspek geografis dan sumber daya alam di dalamnya, melainkan adanya lokalisasi pengetahuan dan “collective learning” yang ada di dalam kluster ini. Kunci daya saing perusahaan di era global ini adalah adanya lokalisasi pola terbentuknya pengetahuan, knowledge sharing, inovasi dan pembelajaran. Sillicon Valey, mungkin menjadi salah satu best practice dari teori kluster ini [3].

Lalu di mana letak coworking space dalam kerangka teori-teori tersebut? Bisa jadi saat ini konsep atau teori baru tentang clustering akan semakin masuk ke dalam tataran yang paling mikro sebagai akibat dari perkembangan teknologi. Manusia saat ini tengah memasuki era yang penuh dengan kompleksitas sehingga model-model baru dalam kluster bisa akan terus berubah. Salah satu indikasi perubahan itu adalah munculnya konsep clustering dalam wujud coworking space, di mana keunggulan perusahaan, khususnya bagi mereka yang berbentuk start-up, akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan mereka untuk mampu berkolaborasi dalam hal ide dan gagasan di alam tataran yang paling kecil dengan dinamika yang semakin cepat.

Beberapa Realita Coworking Space Saat Ini

Beruntungnya, penulis termasuk seseorang yang beberapa kali mencicipi bekerja di lingkungan coworking space Jakarta. Sejujurnya, penulis sendiri mengakui bahwa masih ada yang kurang pas dengan konsep coworking space di Indonesia. Hal yang benar-benar penulis rasakan selama ini adalah bahwa coworking space yang ada kebanyakan tidak ubahnya seperti sebuah lokasi subtitusi dari tempat-tempat kerja non-perkantoran. Hal ini diperkuat dari obrolan dengan beberapa orang soal coworking space, di antara mereka mengatakan bahwa coworking space hanyalah alternatif tempat bekerja dan tidak ada sangkut pautnya soal kolaborasi.

Di sisi lain, secara alamiah terdapat beberapa tantangan untuk menciptakan iklim kolaborasi di coworking space. Bagi sebagian orang, tempat bekerja adalah tempat untuk fokus pada pekerjaan, bukannya ngobrol, berjaring atau melakukan kegiatan-kegiatan lain yang bukan menjadi tugas pokoknya. Belum lagi jika pengguna dari coworking space adalah orang yang punya kecenderungan introvert, pastinya akan sulit membangun relasi yang cair di tengah-tengah situasi bekerja. Selain itu, jika ditarik ke relasi yang lebih luas dalam skala perusahan atau tim, hal yang penulis rasakan, alih-alih kolaborasi, ada semacam benih-benih rivalitas antara sesama perusahaan yang rata-rata memang masih dalam skala perusahan start-up. “Ih, tahu nggak perusahaan itu, dia saingan kita loh, produknya mirip-mirip kita”, beberapa obrolan-obrolan seperti itu yang beberapa kali kerap muncul di sesama tenant.

Tantangan-tangan tersebut, dalam kacamata penulis, tidak sepenuhnya menjadi harga mati dan mutlak membebani bisnis coworking space. Pemain bisnis dalam dunia coworking space harus dapat menonjolkan nilai-nilai kolaborasi dari model tempat bekerja seperti ini. Di sinilah seni, kreatifitas dan kejelian pelaku bisnis coworking space untuk memberikan service kepada para tenant-nya. Pelaku bisnis harus bisa menjawab pertanyaan penting, “Bagaimana menghidupkan kolaborasi di tengah situasi coworking space yang mengarah pada individualisme?”. Jadi coworking space bukan hanya sekadar ‘tempat bekerja sama-sama’ namun dapat menjadi tempat ‘bekerja sama’.

Pengalaman: Tips Memecah Kekakuan

Pada bulan terakhir di mana penulis dan rekan satu tim bekerja di sebuah coworking space, di tengah kebosanan kala bekerja, secara insidental dan random, saya bertanya pada rekan saya, “coworking space ini ada meja pimpong, kok nggak pernah ada yang mainin ya?”. Daripada jenuh, kami memberanikan diri menggunakan meja pimpong itu. Aturannya, meja pimpong boleh dipakai di atas jam 5 pm. Mungkin agar tidak menganggu yang lain. Selama 3 bulan di sana, hampir sama sekali kami tidak pernah berinteraksi dengan tim dari perusahaan lain. Namun, setelah kami iseng-iseng main pimpong (dengan skill yang ala kadarnya pula), keadaan sedikit berubah.

Bola-bola pimpong yang terkadang dipukul terlalu kuat, sering kali menyasar ke meja-meja tenant lain yang saat itu entah sedang bekerja atau bersantai di depan laptop. Bola pimpong yang nyasar ke dekat mereka membuat kami saling berinteraksi walau dalam level yang paling primitif sekalipun, dengan sapaan, “permisi mas, saya mau ambil bola pimpong di kolong meja”. Sedikit mengganggu memang, tapi dari sana terkadang muncul obrolan ringan atau candaan. Beberapa hari kemudian, tiba-tiba ada tenant lain yang datang ke meja pimpong dan menawarkan diri untuk ikut bermain. Walhasil, pelan-pelan, secara santai kami bisa saling mengobrol panjang lebar, bertanya satu sama lain soal pekerjaan, bertukar kartu nama hingga ide-ide segar. Kekakuan komunikasi akhirnya terpecahkan.

Penulis beranggapan bahwa coworking space sebagai tempat yang digunakan hanya untuk fokus bekerja saja adalah sesuatu yang tidak mutlak. Memang ada sebagian pekerjaan dan sebagian waktu saat bekerja, manusia membutuhkan fokus, namun demikian, khususnya dalam ranah yang menuntut skill yang kompleks, seperti kreatifitas dan inovasi, interaksi adalah hal yang tidak kalah pentingnya. Pada keadaan tertentu justru hal ini menjadi kebutuhan mutlak. Contohnya adalah model kerja Scrum yang belakangan diadopsi banyak start-up, menunjukkan bagaimana kolaborasi antara lintas divisi dan departemen akan sangan membutuhkan interaksi yang kuat.

Sedikit mengingat-ingat tren teori psikologi yang terkenal pada tahun 1960-an, yaitu Human Potential Movement, yang mana memberikan pencerahan bahwa potensi manusia bisa muncul melalui kegiatan grup dan interaksi. Teori Human Potential Movement, pada tataran praktis sering dikenal dengan istilah ice breaker. Para ahli juga sependapat bahwa ice breaker memiliki peran yang sangat penting dalam dunia kerja di mana dapat mengurangi stress yang pada akhirnya secara teori akan meningkatkan produktifitas. Nah, hal ini, bisa jadi akan sangat relevan dengan konsep bisnis coworking space untuk menggapai nilai-nilai kolaborasi dalam konteks yang tentu saja sedikit berbeda.

Kisah penulis sebelumnya soal permainan pimpong memberikan kita pencerahan bahwa dalam arena coworking space dibutuhkan pula media-media yang berperan sebagai ice breaker. Seuatu yang selama ini mungkin banyak coworking space lupakan. Memberikan mereka ruang untuk berinteraksi secara menyenangkan dan guyub adalah sebuah kebutuhan awal bagi terciptanya kolaborasi yang produktif. Kita tidak perlu berpikir ide-ide ribet nan idealis juga berbobot tentang hal apa yang bisa menyatukan manusia. Berpikirlah secara sederhana, misalnya, buat saja ruang khusus bermain PS4 (cowok-cowok pasti akan bersatu di bawah naungan game Wining Eleven), atau buatkan ruang nge-band dan karaoke (dengan seperangkat alat musiknya) yang suka musik pasti jadi asik, atau buatkan pula ruang nonton bareng Game of Throne di senin pagi (biar jadinyanya gak I hate monday). Sejatinya, banyak ide-ide gila namun simple lain yang sebenarnya bisa menyatukan para pengguna coworking space.

Mungkin bisa jadi, karena coworking space bukanlah kantor tetap dan bukan pula Divisi Human Resources sebuah perusahaan, mereka sering melupakan service untuk ‘sisi-sisi kemanusiaan’. Pebisnis coworking space tidak ubahnya seperti Ibu Kos-Kosan yang hanya memikirkan bagaimana kondisi utility dan pendukung lainnya bisa berjalan lancar. Inilah yang seharusnya yang mulai perlu dipikirkan oleh para pebisnis coworking space di Indonesia. Bagaimana space yang ada bukan hanya diperuntukan untuk ‘working’ tapi juga menciptakan rekayasa-rekayasa sosial sehingga muncul ‘co-’ di sana. So it’s called coworking space rite!?.

Paradigma Coworking Space ala Ev Hive

Belakangan penulis tertarik dengan salah satu coworking space di Jakarta yang nampaknya sudah menerapkan konsep yang utuh  dari bisnis coworking space di tempat mereka. Nama perusahaan coworking space itu adalah Ev Hive. Mereka sendiri saat ini sudah memiliki beberapa tempat, antara lain:

1.      EV Hive Tower @IFC Building, terletak di Jalan Sudirman, Jakarta.

2.      EV Hive Satellite @Equity Tower, terletak di SCBD, Jakarta Selatan.

3.      The Maja, terletak di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

4.      D.Lab, terletak di Menteng, Gondangdia, Jakarta Pusat.

5.      Dimo, terletak di Sarinah, Jakarta Pusat.

6.      Jakarta Smart City (JSC) Hive, terletak di Karet Kuningan, Jakarta Selatan.

7.      The Breeze, terletak di BSD City, Tangerang

Selain menggunakan konsep umum coworking space yang sudah ada, seperti tempat yang terbuka, fleksibilitas dan banyaknya acara-acara kekinian yang diselenggarakan oleh EV Hive, mereka sendiri nampaknya sadar betul tentang makna menjadi “Ibu Kos-Kosan” yang baik.

Jika melihat websitenya saja dan membuka laman Why EV Hive, penampakan foto-foto yang mereka suguhkan benar-benar berbeda dengan beberapa coworking space lain yang pernah penulis jajal atau kunjungi. Benar-benar menggoda. Hal-hal “remeh temeh” yang penulis bayangkan seperti meja pimpong hingga permainan table football hadir untuk melengkapi gagasan kolaborasi di coworking space.

Uniknya, mereka sempat-sempanya membicarakan Game of Throne, lihat saja dalam web-nya:

“Collaboration is the key to all successful stories, networking is organic when the connection is not forced upon. In our coworking spaces, you will never know who you’ll encounter everyday. With an open space concept, the option of networking is not forced upon but merely a choice. You will not want to miss our events that range from self-enriching workshops to Game of Throne viewing nights[3]

Selain salut dengan ide nobar Game of Throne-nya, Penulis sangat menyukai gagasan organic networking yang diberikan EV Hive, di mana mereka menyadari sekali bahwa koneksi yang tidak dipaksakan dan seutuhnya merupakan sebuah opsi adalah langkah awal menuju kolaborasi yang produktif. Hal ini diperkuat dengan konsep ruang yang mendukung gagasan tersebut dengan segala atribut dan alat pelengkapnya. Ini adalah hal yang benar-benar penulis ingin cari jika akan memilih menggunakan coworking space.

Tidak hanya berhenti sampai di sana, Ev Hive nampaknya juga sadar bentul apa yang menjadi kebutuhan tenant yang rata-rata adalah seorang entrepreneur atau perusahaan start-up. Lupakan dukungan-dukungan standar berupa alamat kantor, loker, kopi gratis, internet kenceng, dan utilities lainnya, Ev Hive ternyata memberikan lebih jauh dari itu semua. Ev Hive juga mendukung pengguna coworking space-nya dalam sebuah platform online untuk saling berkolaborasi. Lebih serunya lagi Ev Hive juga memberikan dukungan bagi para tentant-nya berupa aplikasi usaha seperti software akuntansi, rekruitmen dan manajemen dengan harga spesial. Hal-hal yang amat dibutuhkan bagi para para entrepreneur atau perusahaan start-up. Penulis pikir, penulis akan menjajal Ev Hive sebagai tempat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sembari mendapatkan manfaat kolaborasi sebenarnya dari coworking space ini.

 

Coworking Space: Harapan ke Depan

Sejatinya, coworking space dapat digunakan oleh pekerja dengan latar belakang apapun selama mereka adalah para pekerja yang berurusan dengan hal-hal yang membutuhkan ide, gagasan, dan kreativitas.  Hal berarti menunjukkan bahwa sekalipun pasar utama coworking space adalah entrepreneur, freelancer atau para perusahan start-up, sebuah tim di sebuah perusahaan besarnya pun bahkan sangat mungkin dapat memanfaatkan coworking space sebagai alternatif untuk menyelesaikan sebuah proyek atau pekerjaan dalam batas waktu tertentu. Sebuah tim dari perusahaan besar, bisa saja sewaktu-waktu dapat mendapatkan pencerahan dari gaya perusahan start-up, pun sebaliknya.

Hal ini diuntungkan pula dengan konsep coworking space yang menyesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Biasanya coworking-space menawarkan berbagai paket seperti flexi desk, dedicated desk hingga private room. Kostumasi kebutuhan ini sangat menguntungkan para pelaku bisnis. Kostumasi kebutuhan secara tidak langsung akan memunculkan variasi atau “keanekaragaman” usaha, baik secara bidang usaha ataupun skala bisnis dari satu perusahaan/tim/tenant di dalam sebuah coworking space. Coworking space yang baik adalah coworking space yang mampu memadukan semua variasi dan keberagaman usaha di dalamnya. Mampu menjadi katalisator dan fasilitator dalam memadukan ide, gagasan dan kreativitas sehingga muncullah solusi-solusi cemerlang bagi peradaban umat manusia.

[1] https://evhive.co/blogs/mengenal-lebih-dalam-apa-itu-coworking-space-ev-hive

[2] http://www.rri.wvu.edu/wp-content/uploads/2012/11/bekelewp2006-5.pdf

[3] https://evhive.co/about

SHARE
Previous articleTentang Tahu Bulat yang Semakin Jarang Terlihat
Next articleWhat Are You?

I am an avid reader of economics book, especially about history and philosophy of economics. I do love economics. I am active in many organizations and enjoy social interactions with different kind of people. I play football and have big interest about social media topics